Dukung Palestina, Ratusan Aktor dan Sutradara Dunia Hentikan Kerja Sama dengan Israel

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Selasa, 9 September 2025 | 15:41 WIB
Emma Stone turut bergabung dalam petisi boikot  (@emmagemstone)
Emma Stone turut bergabung dalam petisi boikot (@emmagemstone)


INSIBERNEWS — Industri perfilman internasional diguncang sebuah gerakan solidaritas besar. Lebih dari 1.200 tokoh film dan televisi, mulai dari sutradara, aktor, hingga pemenang Piala Oscar, menyatakan sikap menolak bekerja sama dengan lembaga film Israel.

Petisi boikot ini diumumkan pada Senin, 8 September 2025, dan langsung menarik perhatian global.

Gerakan ini lahir sebagai bentuk protes terhadap praktik yang mereka sebut sebagai keterlibatan Israel dalam “genosida dan apartheid terhadap rakyat Palestina.”

Baca Juga: Day 1 Jadi Menteri, Purbaya Yudhi Sadewa Sebut Demo Muncul Karena Rakyat Kurang Sibuk

Media hiburan ternama, Variety, mengonfirmasi bahwa inisiatif tersebut dipublikasikan secara resmi di hari yang sama.

Nama-nama besar menghiasi daftar penandatangan, di antaranya sutradara Yorgos Lanthimos dan Ava DuVernay, aktris Emma Stone, Olivia Colman, hingga aktor Javier Bardem.

Beberapa bintang Hollywood seperti Mark Ruffalo, Tilda Swinton, dan Ayo Edebiri juga turut menegaskan komitmen mereka mendukung boikot ini.

Baca Juga: Prasetyo Hadi Bantah Isu Reshuffle Prabowo Singkirkan Orang Dekat Jokowi

Organisasi Film Workers for Palestine menjadi pihak yang mengoordinasikan langkah tersebut.

Melalui akun Instagram resminya, mereka menekankan bahwa segala bentuk kolaborasi dengan institusi film Israel yang dianggap “membenarkan atau memutihkan praktik apartheid” harus dihentikan.

Festival besar seperti Jerusalem Film Festival, Haifa International Film Festival, dan Docaviv disebut termasuk dalam daftar yang diboikot.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Koperasi, BUMN, dan Swasta Jadi Pilar Ekonomi Baru Indonesia

Gerakan ini mengingatkan publik pada aksi serupa di era 1980-an. Tahun 1987, ratusan sineas internasional di bawah bendera Filmmakers United Against Apartheid menolak mendistribusikan film di Afrika Selatan.

Kala itu, Jonathan Demme dan Martin Scorsese menjadi motor penggerak. Tekanan budaya internasional tersebut dipercaya berperan dalam mempercepat runtuhnya rezim apartheid.

Salah satu penanda tangan ikrar, aktris sekaligus komedian Hannah Einbinder, menyatakan bahwa tragedi yang terjadi di Gaza telah mengguncang nurani dunia.

Baca Juga: Ferry Irwandi Terseret Kasus Dugaan Tindak Pidana, Begini Responnya!

Ia menegaskan sebagai warga Yahudi-Amerika, dirinya merasa bertanggung jawab karena pajak negaranya ikut mendanai serangan Israel.

“Kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk menghentikan genosida,” ujarnya.

Namun, tidak semua pihak menyambut gerakan ini dengan setuju. Asosiasi Produser Film dan TV Israel merilis pernyataan resmi sebagai tanggapan. Mereka menyebut langkah boikot tersebut “keliru” dan “menargetkan orang yang salah.”

Baca Juga: Vadel Badjideh Hadapi Tuntutan 12 Tahun Penjara, Pasrah pada Putusan Hakim

Menurut asosiasi, sineas Israel justru kerap menghadirkan narasi kompleks mengenai konflik, termasuk membuka ruang cerita bagi perspektif Palestina.

Pihak asosiasi juga menegaskan bahwa sinema seharusnya menjadi alat untuk mempertemukan, bukan memisahkan.

“Kami menyerukan agar komunitas internasional mengakui komitmen kami terhadap dialog dan perdamaian. Kisah-kisah yang kami buat adalah sarana untuk memahami dan menyembuhkan, bukan untuk memperdalam perpecahan,” demikian isi pernyataan mereka.

Baca Juga: PM Israel Netanyahu Klaim Hancurkan Puluhan Menara di Gaza

Adapun isi ikrar yang ditandatangani para sineas dunia menekankan bahwa sinema punya peran penting dalam membentuk opini publik.

Mereka menegaskan, ketika Mahkamah Internasional menyatakan adanya risiko genosida di Gaza, maka diam sama saja dengan ikut membenarkan ketidakadilan.

“Kami berjanji untuk tidak menayangkan film, menghadiri festival, ataupun bekerja sama dengan institusi film Israel yang terlibat dalam praktik apartheid,” demikian bunyi pernyataan yang telah diterjemahkan.

Baca Juga: Reza Rahadian Debut Jadi Sutradara Lewat Film 'Pangku'

Dengan dukungan lebih dari seribu pekerja film dunia, gerakan ini menjadi salah satu langkah kolektif paling besar dalam sejarah perfilman modern.

Pertanyaannya kini, apakah tekanan budaya internasional lewat sinema akan mampu memberi dampak nyata terhadap situasi politik di Timur Tengah?

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X