Gen Z Jepang Tak Lagi Gila Kerja: Fenomena Quiet Quitting Jadi Bentuk Perlawanan Halus

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 28 Mei 2025 | 15:20 WIB
Ilustrasi Negara Jepang (Foto : Depositphoto)
Ilustrasi Negara Jepang (Foto : Depositphoto)

INSIBERNEWS - Budaya kerja keras ala Jepang yang selama ini identik dengan loyalitas total dan jam kerja panjang mulai mengalami gesekan. Generasi muda, terutama mereka yang lahir setelah tahun 1995 atau biasa disebut Gen Z, perlahan-lahan mulai mengambil langkah berbeda dari senior mereka.

Mereka tidak lagi menganggap lembur tanpa batas dan totalitas terhadap perusahaan sebagai bentuk keberhasilan. Justru, keseimbangan hidup dan kesehatan mental kini menjadi prioritas.

Baca Juga: WhatsApp Kini Hadir di iPad, Bawa Fitur Lengkap dan Dukungan Multitasking Maksimal

Fenomena yang kini mulai tumbuh di tengah dunia kerja Jepang adalah quiet quitting. Istilah ini mengacu pada kondisi di mana seorang karyawan hanya bekerja sesuai tugas pokok yang diminta, tanpa ambisi berlebih, tanpa lembur tanpa bayaran, dan tanpa dorongan untuk “mengabdi” lebih dari yang semestinya.

Meski istilah ini sempat populer di Amerika Serikat pada 2022, rupanya Jepang, negara yang selama ini dikenal sebagai rumah bagi budaya kerja ekstrem, ikut merasakan gaungnya.

Baca Juga: Howell Expo 2025 Awali Langkah Sehat dengan Donor Darah dan Zumba Ceria

Perbedaan pandangan ini bisa terlihat jelas antara generasi tua dan muda. Jika generasi sebelumnya bangga pada loyalitas tanpa batas dan komitmen yang menguras waktu, Gen Z justru menilai gaya kerja seperti itu sebagai bentuk perbudakan modern yang tidak sehat.

Banyak di antara mereka lebih memilih pekerjaan dengan jam kerja fleksibel, ruang kerja yang mendukung kesehatan mental, dan lingkungan yang tidak menghakimi pilihan hidup personal.

Baca Juga: Tips Latihan Toilet untuk Si Kecil: 3 Cara Bikin Anak Siap Lepas Pampers

Sejumlah perusahaan Jepang pun mulai merespons perubahan ini. Beberapa startup dan perusahaan kreatif telah menerapkan kebijakan kerja jarak jauh, jam kerja fleksibel, hingga cuti tambahan untuk kesehatan mental.

Namun, tidak sedikit perusahaan konservatif yang masih memandang quiet quitting sebagai sikap tidak loyal dan tidak berdedikasi. Padahal, sebagian besar pelaku quiet quitting bukanlah pemalas, melainkan individu yang menolak bekerja secara berlebihan tanpa penghargaan setimpal.

Baca Juga: Murah Meriah dan Bergizi! Ini 3 Manfaat Tempe untuk MPASI Bayi

Dampak dari tren ini cukup terasa. Data dari Kementerian Kesehatan Jepang menunjukkan peningkatan signifikan dalam permintaan konseling kerja dan layanan kesehatan mental sejak pandemi.

Hal ini memperkuat bahwa perubahan gaya hidup kerja memang dibutuhkan. Gen Z tidak serta merta ingin malas, tapi mereka ingin hidup seimbang: bekerja, tapi tetap punya ruang untuk bernafas, bersosialisasi, dan merawat diri sendiri.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X