INSIBERNEWS - Memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sebelum bayi berusia 6 bulan masih menjadi kebiasaan yang cukup sering terjadi di masyarakat.
Padahal, menurut rekomendasi dari WHO dan IDAI, usia ideal pemberian MPASI dimulai ketika bayi berusia tepat 6 bulan. Memberikan MPASI lebih awal justru bisa membawa sejumlah risiko kesehatan bagi si kecil.
Baca Juga: 5 Tanda Kamu Punya Kecerdasan Naturalis, Si Pencinta Alam Sejati
Sistem pencernaan bayi di bawah usia 6 bulan belum cukup matang untuk mencerna makanan selain ASI. Usus bayi masih sangat sensitif, sehingga makanan padat atau cairan lain yang diberikan terlalu dini bisa memicu gangguan pencernaan seperti diare, sembelit, hingga perut kembung. Hal ini bisa menyebabkan bayi menjadi rewel dan sulit tidur.
Baca Juga: Apakah Vasektomi Membuat Pria Mandul? Cek Faktanya!
Selain itu, MPASI dini dapat meningkatkan risiko tersedak. Bayi yang belum memiliki refleks menelan yang sempurna bisa mengalami kesulitan saat mengonsumsi makanan padat, bahkan dalam bentuk lumat sekalipun. Ini bisa membahayakan nyawa jika makanan masuk ke saluran pernapasan.
Pemberian MPASI sebelum waktunya juga bisa mengganggu proses penyerapan zat gizi penting dari ASI. Akibatnya, bayi bisa mengalami kekurangan nutrisi atau malnutrisi ringan yang tidak disadari. Padahal, enam bulan pertama adalah masa emas pertumbuhan yang harus dimaksimalkan dengan pemberian ASI eksklusif.
Baca Juga: Waspada! 3 Penyakit Ini Rentan Menular pada Bayi dalam Kandungan
Dampak jangka panjang dari pemberian MPASI dini pun tak bisa dianggap sepele. Beberapa studi menyebutkan bahwa bayi yang mendapat MPASI sebelum waktunya lebih berisiko mengalami obesitas di kemudian hari. Selain itu, kekebalan tubuhnya juga cenderung lebih rendah dibandingkan bayi yang diberi ASI eksklusif selama enam bulan pertama.
Baca Juga: Sebenernya Apa Itu KB Vasektomi, Apakah Berbahaya?
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa pemberian MPASI sebaiknya dilakukan tepat waktu, bukan lebih cepat. Berkonsultasilah dengan tenaga medis jika merasa bayi terlihat lapar lebih sering atau mengalami kenaikan berat badan yang lambat, agar mendapat saran yang tepat tanpa harus mengambil risiko kesehatan jangka panjang.
Artikel Terkait
5 Tanda Kamu Punya Kecerdasan Naturalis, Si Pencinta Alam Sejati
Menghindari Gaslighting dalam Hubungan Pribadi dan Profesional: Menjaga Kesehatan Mental dan Integritas Diri
Etika Berkomunikasi di Era Digital: Menjaga Sopan Santun di Ruang Maya
Cara Dewasa Mengelola Konflik Sosial: Kunci Relasi yang Sehat dan Tahan Lama
Segera Hadir di Indonesia, Xiaomi TV A Pro Series 2026 Tawarkan Smart Living dan Pengalaman Menonton Imersif!
Cegah Rabies dan Ledakan Populasi, Ratusan Kucing dan Anjing di Jakbar Disterilisasi
Kulit Belang Terpapar Sinar Matahari? Ini Solusi Alami dan Praktis yang Bisa Dicoba!
Sebenernya Apa Itu KB Vasektomi, Apakah Berbahaya?
Waspada! 3 Penyakit Ini Rentan Menular pada Bayi dalam Kandungan
Apakah Vasektomi Membuat Pria Mandul? Cek Faktanya!