INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah mengeluarkan pernyataan yang mengisyaratkan bahwa Ukraina bisa saja menjadi bagian dari Rusia di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancaranya dengan Fox News pada Senin (10/2), menjelang pertemuan antara Wakil Presiden JD Vance dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Baca Juga: Tragis! Seorang Ayah di Bekasi Tega Lempar Bayinya ke Genangan Banjir
Dalam wawancara tersebut, Trump berbicara mengenai perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun antara Ukraina dan Rusia. Ia menyebut kemungkinan adanya kesepakatan atau tidak, dan bahkan menyinggung masa depan Ukraina yang mungkin berada di bawah kendali Rusia.
"Mereka mungkin membuat kesepakatan, mereka mungkin tidak membuat kesepakatan. Mereka mungkin menjadi Rusia suatu hari nanti, atau mereka mungkin bukan Rusia suatu hari nanti," ujar Trump.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa bantuan AS ke Ukraina harus memberikan imbal balik yang jelas, termasuk melalui potensi perdagangan mineral tanah jarang yang dimiliki Kyiv.
Pernyataan Trump ini pun langsung mendapat tanggapan dari Kremlin. Juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, menyambut baik pernyataan tersebut dan mengklaim bahwa sebagian besar rakyat Ukraina sebenarnya ingin bergabung dengan Rusia.
"Sebagian besar Ukraina ingin menjadi Rusia, dan fakta bahwa Ukraina telah menjadi Rusia tidak dapat disangkal," kata Peskov dalam konferensi pers.
Ia juga menambahkan bahwa referendum yang digelar di wilayah Ukraina yang dicaplok oleh Rusia menunjukkan keinginan rakyat untuk bergabung dengan Moskow, meskipun referendum tersebut secara luas dianggap tidak sah oleh komunitas internasional.
Baca Juga: Jokowi Jawab Soal Coretan ‘Adili Jokowi’: Itu Ekspresi Kekalahan, Biasa Aja dalam Demokrasi!
Sikap Trump dalam isu ini dinilai berseberangan dengan kebijakan resmi AS saat ini yang terus memberikan dukungan militer dan finansial kepada Ukraina dalam mempertahankan kedaulatannya.
Komentar kontroversial ini pun memicu kekhawatiran di kalangan sekutu AS di Eropa, yang khawatir jika Trump kembali berkuasa, kebijakan luar negeri Washington terhadap Ukraina bisa berubah drastis.
Artikel Terkait
Jakarta Bakal Terapkan Sistem Qris untuk Beli LPG 3 KG, Warga Non-DKI Gak Diajak!
Hamas Tunda Pembebasan Sandera, Tuding Israel Langgar Gencatan Senjata
Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadhan 1446 H Jatuh pada 1 Maret 2025, Idul Fitri 31 Maret
Manchester City Kalah di Kandang, John Stones: Saya Marah dan Frustrasi!
Tuntut Uang Tutup Mulut Senilai Rp5 Miliar, Intip 3 Fakta Kasus Nikita Mirzani vs Reza Gladys
Netanyahu Ultimatum Hamas: Bebaskan Sandera atau Perang Berlanjut!
Jokowi Jawab Soal Coretan ‘Adili Jokowi’: Itu Ekspresi Kekalahan, Biasa Aja dalam Demokrasi!
Seperti Punya Pesta Pernikahan Setiap Hari, Menkeu Sri Mulyani Ungkap Kerumitan Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis
Jamin Mitigasi Bencana Layanan Publik Tetap Optimal, Istana: Tidak Benar BMKG Kena Efisiensi 50 Persen
Tragis! Seorang Ayah di Bekasi Tega Lempar Bayinya ke Genangan Banjir