INSIBERNEWS - Pemerintah Indonesia tengah berupaya keras melepaskan diri dari jerat ketergantungan impor pangan, tak terkecuali untuk komoditas susu sapi segar.
Sebagai wujud keseriusan, Kementerian Pertanian (Kementan) kini gencar membuka karpet merah dan merayu para investor, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk segera menanamkan modalnya demi membangun ketahanan industri persusuan nasional yang jauh lebih mandiri.
Visi kemandirian pangan ini digaungkan secara langsung oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat menghadiri agenda peletakan batu pertama pembangunan kawasan peternakan sapi perah terpadu di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Senin (20/7/2026).
Proyek strategis di wilayah Brebes tersebut diharapkan mampu menjadi tonggak awal kebangkitan produksi susu lokal yang selama bertahun-tahun masih tertinggal jauh.
Berdasarkan hitung-hitungan strategis Kementan, target mencapai kemandirian produksi susu pada dasarnya bukanlah sebuah angan-angan kosong belaka.
Amran memaparkan bahwa negara ini secara kalkulatif hanya memerlukan suntikan investasi untuk membangun sekitar 20 peternakan sapi perah modern berskala raksasa guna memenuhi seluruh lonjakan kebutuhan gizi harian masyarakat tanpa harus bergantung pada pasokan luar.
Menyadari potensi pasar yang sangat besar dan menjanjikan, Amran secara terbuka memberikan jaminan iklim investasi yang sehat dan kondusif. Ia menantang para pemodal raksasa untuk tidak ragu mengucurkan dananya ke sektor hulu peternakan, mengingat pemerintah siap memberikan berbagai kemudahan regulasi demi memuluskan jalannya produksi.
"Kami meminta pengusaha-pengusaha lokal maupun dari luar negeri untuk investasi di Indonesia karena pasarnya jelas. Kita butuh perusahaan seperti ini sekitar 20 kalau mau swasembada," tegas Mentan Amran meyakinkan para pihak yang hadir.
Baca Juga: Siap-Siap! DJP Kini Incar Warga yang Belum Punya NPWP Lewat Aturan Baru
Desakan untuk segera mengebut pembangunan mega-peternakan ini menjadi sangat masuk akal jika kita melihat neraca pasokan dalam negeri yang masih berdarah-darah.
Mentan membeberkan fakta miris bahwa hingga detik ini, Indonesia masih harus mendatangkan sekitar 80 persen dari total kebutuhan susu nasional melalui pintu impor, yang volumenya menyentuh angka fantastis di kisaran 3,6 hingga 3,8 juta ton setiap tahunnya.
Ke depannya, keberanian untuk menumbuhkan 20 peternakan raksasa ini diyakini akan memicu efek berganda yang amat menguntungkan bagi urat nadi perekonomian nasional. Selain mampu menghemat devisa triliunan rupiah yang biasanya menguap untuk impor, langkah taktis ini dipastikan bakal membuka ribuan lapangan pekerjaan baru sekaligus mendorong alih teknologi peternakan modern di Tanah Air.***
Artikel Terkait
Bongkar Skandal Pembiayaan Batu Bara, Polri Jebloskan Tiga Petinggi PT PPA dan PT BAS ke Balik Jeruji
Kandas Sudah, PN Jaksel Tolak Mentah-mentah Praperadilan Kedua Roy Suryo Kasus Ijazah Jokowi
Sehabis Nobar Final Piala Dunia, KPK OTT Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini
Mencekam! Niat Rayakan Ultah Nenek di Jakpus, Atlet Golf Jesslyn Wijaya Malah Diculik Gerombolan Pria Misterius