Langit Jakarta hingga Lampung Dikepung Abu Anak Krakatau, BNPB-BMKG Gelar Operasi Cuci Udara

Photo Author
- Minggu, 6 September 2026 | 12:49 WIB
Menyoroti kondisi terkini masyarakat di wilayah Lampung yang terdampak hujan abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. (Instagram.com / @lampuung - @halokrw)
Menyoroti kondisi terkini masyarakat di wilayah Lampung yang terdampak hujan abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. (Instagram.com / @lampuung - @halokrw)
INSIBERNEWS - Erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau memicu pergerakan abu vulkanik pekat yang kini mulai menyelimuti ruang udara di wilayah DKI Jakarta, Banten, hingga Lampung.
 
Merespons ancaman polusi udara lintas provinsi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara darurat.

Langkah taktis ini diambil pemerintah semata-mata demi menjernihkan kembali kualitas udara yang tercemar partikel abu vulkanik berbahaya.
 
Jika dibiarkan mengendap, paparan debu dari aktivitas gunung berapi tersebut berpotensi melumpuhkan mobilitas harian warga sekaligus memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan di tiga wilayah terdampak.
 

Guna mendukung eksekusi di lapangan, sebuah armada pesawat khusus modifikasi cuaca telah disiagakan penuh di landasan Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
 
Burung besi penembus awan tersebut telah bersiap sejak Minggu (6/9/2026) pagi dan dijadwalkan akan terus mengudara meronda langit hingga malam hari.

"Hari ini juga kita melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca. Jadi pesawatnya sudah siap di Pondok Cabe. Hari ini akan dilaksanakan operasi modifikasi cuaca sampai malam," papar Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan kesiapan timnya dalam upaya mensterilkan kembali udara dari polutan.

Dalam praktiknya, operasi rekayasa cuaca ini tidak hanya mengandalkan satu cara baku, melainkan menyiapkan dua teknik berbeda yang sangat bergantung pada dinamika atmosfer harian.
 
 
Skema pertama berfokus pada penyemaian awan potensial untuk memicu hujan lebat, sehingga guyuran air tersebut bisa berfungsi layaknya pembilas raksasa yang mencuci abu vulkanik secara alami.

"Kalau hujannya nanti turun dengan cukup deras, tentu saja abu vulkanik yang sekarang mengganggu kehidupan kita ini bisa segera luruh. Namun, apabila tidak ada pertumbuhan awan hujan, kami dengan BMKG juga sepakat untuk menggunakan metode water mist untuk mengurai partikel abu yang berbahaya," jelas Suharyanto.

Metode alternatif water mist atau penyemprotan kabut air dari udara ini menjadi senjata andalan apabila kondisi cuaca terpantau terik tanpa gumpalan awan hujan.
 
Lewat kombinasi dua skenario tersebut, pemerintah optimis badai abu vulkanik ini dapat segera diatasi sehingga aktivitas warga di kawasan pesisir hingga ibu kota bisa kembali berjalan normal dan aman.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X