6 Gunung Api Indonesia Erupsi Serentak, Apakah Saling Memicu? Ini Penjelasan PVMBG

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Sabtu, 5 September 2026 | 14:46 WIB
Gunung Sinabung berstatus siaga III usai Erupsi (Dok. BPBD Kab. Karo)
Gunung Sinabung berstatus siaga III usai Erupsi (Dok. BPBD Kab. Karo)

INSIBERNEWS - Fenomena enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi pada waktu berdekatan pada 31 Agustus 2026 sempat memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan erupsi tersebut tidak berkaitan satu sama lain.

Enam gunung api yang tercatat mengalami erupsi pada tanggal tersebut yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Baca Juga: Prajurit TNI AL Viral Dampingi Arya Wedakarna di Kontes Transgender Bangkok, Ini Penjelasan Lanal Denpasar

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik masing-masing gunung api memiliki sistem dan proses tersendiri. Dengan demikian, erupsi yang terjadi secara bersamaan tidak dapat langsung diartikan sebagai akibat dari satu fenomena geologi yang sama.

Menurut Rita, kondisi tersebut sangat mungkin terjadi mengingat Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif yang tersebar di berbagai wilayah.

Ia mengibaratkan setiap gunung api memiliki sistem magma atau "dapur" masing-masing. Proses yang terjadi di dalam gunung hingga akhirnya memicu erupsi pun tidak selalu sama antara satu gunung dengan gunung lainnya.

Baca Juga: Detik-Detik Garuda GA604 Hadapi Kendala Pecah Ban, Mendarat Selamat di Makassar

PVMBG, kata Rita, tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang menyebabkan keenam gunung api tersebut mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026.

Gempa Tidak Otomatis Picu Erupsi Gunung Api

PVMBG juga meluruskan anggapan yang mengaitkan erupsi gunung api dengan gempa bumi tektonik yang terjadi di suatu wilayah.

Rita menjelaskan, gempa tektonik tidak secara otomatis menyebabkan gunung api meletus. Untuk memastikan adanya hubungan antara gempa dan peningkatan aktivitas vulkanik, diperlukan bukti dari data pemantauan gunung api.

Baca Juga: Sah! DPR Resmikan Jabatan Destry Damayanti Sebagai Gubernur Bank Indonesia hingga 2030

Beberapa indikator yang diperhatikan antara lain peningkatan kegempaan vulkanik dalam, perubahan atau deformasi tubuh gunung, kenaikan suhu, serta perubahan pelepasan gas vulkanik.

Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menghubungkan setiap gempa bumi yang terjadi dengan aktivitas erupsi gunung api tanpa melihat data pemantauan dari lembaga terkait.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X