Meski gencatan senjata antara Iran dan blok AS-Israel masih bertahan, dampak ekonominya terus meluas. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu pasokan minyak, gas, dan pupuk dunia, mendorong lonjakan harga komoditas global.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius, terutama bagi negara-negara berkembang yang rentan terhadap krisis pangan dan energi.
Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga bahan bakar. Situasi ini menjadi semakin sensitif menjelang pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Baca Juga: Balita di Cianjur Meninggal Usai Diduga Terkait Kasus Keracunan MBG, Ini Kronologi Lengkapnya
Sebagai respons atas kebuntuan ini, Trump dijadwalkan menggelar rapat penting di Situation Room Gedung Putih pada Senin (27/4/2026). Pertemuan tersebut akan melibatkan tim keamanan nasional dan penasihat kebijakan luar negeri.
Agenda utama rapat itu adalah mengevaluasi stagnasi negosiasi dengan Iran serta menentukan langkah strategis berikutnya, termasuk opsi dalam menghadapi konflik yang masih berlangsung.
Dengan jalur diplomasi yang tersendat dan tekanan global yang meningkat, peran negara-negara seperti Rusia kini menjadi kunci dalam menentukan arah penyelesaian konflik yang berpotensi berdampak luas ini. ***
Artikel Terkait
Sosok Pelaku Penembakan Jamuan Gedung Putih Ditangkap, Donald Trump Pastikan Semua Aman
Tiket Pesawat Lebih Murah! Pemerintah Tanggung PPN untuk Kelas Ekonomi Selama 60 Hari
Permenko Pangan Segera Terbit, Pasokan Lokal Jadi Andalan Program MBG
Menjadi Presiden AS Dinilai Trump Sebagai Pekerjaan Berbahaya Usai Insiden Penembakan
Balita di Cianjur Meninggal, BGN Pastikan Bukan Karena Program MBG
Desakan Keras ke PBB Usai Serangan Israel Tewaskan Prajurit TNI, MPR Minta Sanksi Tegas