INSIBERNEWS - Bencana kebakaran hutan (karhutla) yang melanda wilayah Gironde, Prancis barat daya, memunculkan teror tak terduga. Sebuah gudang usang di komune Le Porge mendadak meledak dahsyat setelah tersambar api. Bangunan terbengkalai itu ternyata selama ini menyimpan tumpukan peluru meriam aktif peninggalan era Perang Dunia (PD) II.
Panasnya suhu ekstrem akibat kebakaran tersebut memicu sebagian amunisi meledak secara beruntun di lokasi kejadian.
Mengutip laporan dari jaringan radio Franceinfo, sekitar 100 dentuman keras bergemuruh nyaring selama kebakaran melanda kawasan itu pada 23 hingga 24 Juli 2026. Amunisi yang terbakar meledak hancur, sementara sisa peluru tajam lainnya terpental jauh dan berserakan ke berbagai penjuru.
Baca Juga: Geger Asap Hitam Mengepul di Hotel Pullman Jakbar, 70 Personel Damkar Sukses Jinakkan Api
Suasana di lapangan makin mencekam ketika sebuah proyektil meriam dilaporkan terbang liar hingga menembus dinding salah satu rumah warga sipil. Beruntung, insiden yang mengancam nyawa ini sama sekali tidak memakan korban jiwa maupun korban luka. Tim khusus penjinak bom akhirnya diterjunkan guna menyisir dan mensterilkan area dari sisa proyektil yang masih berpotensi aktif.
Rentetan dentuman mengerikan tersebut awalnya sempat mengecoh fokus pemerintah daerah dan tim penyelamat yang bertugas. Terkait kepanikan ini, Walikota Le Porge, Martial Zaninetti, langsung memberikan penjelasan resmi mengenai situasi riil di lapangan.
"Awalnya, kami mengira ledakan bertubi-tubi itu berasal dari tabung gas," ungkap Walikota Zaninetti yang membenarkan bahwa jajarannya sempat salah menduga sumber rentetan suara ledakan tersebut sebelum identitas peluru meriam terungkap.
Di tengah ancaman sisa amunisi perang, otoritas Prancis juga masih harus berjibaku menaklukkan amukan karhutla yang kian meluas. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengonfirmasi bahwa garis depan rambatan api di Gironde telah memanjang hingga menyentuh jarak 240 kilometer. Hingga kini, kobaran api raksasa tersebut masih belum sepenuhnya mampu dijinakkan oleh petugas gabungan.
Fenomena alam ekstrem ini rupanya menjadi imbas langsung dari gelombang panas terburuk yang tengah memangsa benua Eropa, dengan Spanyol, Portugal, Italia, dan Yunani sebagai negara terdampak paling parah.
Menyoroti darurat iklim ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron secara blak-blakan menyatakan bahwa negaranya kini tengah menghadapi rekor karhutla musim panas tertinggi dan paling merusak sejak berakhirnya era Perang Dunia II.***
Artikel Terkait
Kecelakaan Maut Tewaskan 2 Orang Di Tol Cipularang, Mobil Pikap Ringsek Parah
Peran Gus Haris di Kasus Bupati Pemalang Terungkap, KPK Sebut Dugaan Pengumpulan Uang Rp1,98 Miliar untuk Suap
Terseret Skandal TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Advokat Senior Ali Nurdin Buka Suara Tepis Isu Miring
Cemburu Buta Berujung Maut, Suami di Grogol Tega Habisi Nyawa Istrinya Pakai Palu hingga Tewas
Geger Asap Hitam Mengepul di Hotel Pullman Jakbar, 70 Personel Damkar Sukses Jinakkan Api