Ulama Banten Siap Tempuh Jalur Hukum, Materi Komedi Pandji Dinilai Langgar Etika Ibadah

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Senin, 12 Januari 2026 | 07:28 WIB
Ulama dan Pesantren Banten Kecam Keras atas Materi Komedi Pandji  (Istimewa)
Ulama dan Pesantren Banten Kecam Keras atas Materi Komedi Pandji (Istimewa)

INSIBERNEWS - Gelombang kritik datang dari kalangan ulama dan pimpinan pesantren di Provinsi Banten terhadap materi komedi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dalam serial Mens Rea.

Konten tersebut dinilai telah melampaui batas kewajaran karena menyentuh praktik ibadah umat Islam, khususnya shalat, yang dianggap memiliki kedudukan sakral dan tidak pantas dijadikan bahan candaan.

Baca Juga: Anggaran Aceh Tetap Aman, Pemerintah Pastikan TKD Tak Dipangkas Pasca Bencana

Sikap tegas ini disampaikan Ketua Dewan Pembina Majelis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten, KH Matin Syarkowi, dalam pertemuan para kiai dan tokoh pesantren di Joglo Waladun Sholeh Kebun Kebangsaan, Walantaka, Kota Serang, Minggu (11/1/2026). Pertemuan tersebut membahas respons bersama atas materi komedi yang dinilai menimbulkan keresahan.

KH Matin menjelaskan, reaksi para ulama bukan muncul secara emosional atau terburu-buru. Menurutnya, materi yang dibawakan Pandji telah dikaji secara menyeluruh oleh para pimpinan pesantren sebelum disikapi secara resmi. Dari hasil telaah itu, ditemukan sejumlah bagian yang dianggap problematis dan berpotensi menyinggung keyakinan umat.

Baca Juga: Viral Chat Diduga Jule Ungkap KDRT Jadi Alasan Selingkuh, Daehoon Buka Suara

Salah satu bagian yang menjadi sorotan utama adalah penggunaan analogi proses melamar pekerjaan di maskapai penerbangan yang kemudian dikaitkan dengan praktik ibadah shalat. Dalam ilustrasi tersebut, sosok yang digambarkan taat beribadah justru diposisikan sebagai bahan kelakar saat menghadapi situasi darurat.

“Digambarkan seseorang yang rajin shalat, lalu ketika terjadi turbulensi malah dijadikan bahan tertawaan karena mengajak shalat safar. Ini seolah memberi kesan bahwa ketaatan beribadah identik dengan ketidakprofesionalan,” ujar KH Matin.

Baca Juga: OTT Awal 2026, KPK Sita Uang dan Valas dari Dugaan Suap Pegawai Pajak Jakarta Utara

Menurutnya, penyampaian semacam itu tidak bisa dianggap sekadar humor. Ia menilai, pesan yang tersirat berpotensi merendahkan nilai ibadah dan membentuk persepsi keliru di tengah masyarakat, terutama bagi generasi muda yang menjadi konsumen utama konten hiburan digital.

Selain isu ibadah, ulama Banten juga menyoroti materi lain yang menyinggung persoalan pertambangan dan organisasi kemasyarakatan. Dalam bagian tersebut, Pandji disebut membandingkan ormas Islam dengan kelompok lain melalui sudut pandang komedi yang dinilai tendensius.

“Perbandingan itu diarahkan untuk ditertawakan, seakan-akan ada penggiringan opini tentang kelompok tertentu. Ini bukan lagi humor netral, tapi berpotensi provokatif,” kata KH Matin.

Baca Juga: Trump Pasang Target Tinggi, AS Incar Kendali Minyak Venezuela Lewat Raksasa Energi

Keresahan semakin menguat ketika nama organisasi besar Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah turut disebut dalam narasi tersebut. Kedua ormas itu digambarkan seolah memiliki keterkaitan dengan kepentingan politik tertentu, sebuah tudingan yang dinilai tidak berdasar dan melukai perasaan umat.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X