Bertahan di Tengah Banjir, Begini Cara Cerdas Warga Desa Sekumur Sulap Air Sungai Jadi Layak Pakai

Photo Author
- Rabu, 24 Desember 2025 | 10:17 WIB
Warga desa Sekumur, Aceh Tamiang yang membuat sistem penyaringan alami di pinggir pantai. (Instagram/agussalim_84)
Warga desa Sekumur, Aceh Tamiang yang membuat sistem penyaringan alami di pinggir pantai. (Instagram/agussalim_84)

INSIBERNEWS - Kelangkaan air bersih pascabanjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang memaksa warga terdampak untuk mencari cara bertahan hidup dengan sumber daya yang ada.

Di tengah keterbatasan bantuan dan rusaknya fasilitas sanitasi, warga Desa Sekumur justru menunjukkan inisiatif yang lahir dari kearifan lokal.

Masyarakat setempat memanfaatkan kondisi alam di sekitar sungai untuk memperoleh air bersih. Mereka membuat lubang galian sederhana di tepi sungai, memanfaatkan struktur tanah sebagai media penyaring alami agar air yang dihasilkan lebih jernih dan layak digunakan.

Baca Juga: Dua Letusan Dini Hari Guncang Semeru, Kolom Abu Capai 900 Meter

Inovasi warga ini menjadi perhatian publik setelah terekam dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @agussalim_84. Video tersebut ramai dibagikan karena memperlihatkan solusi sederhana namun efektif yang diterapkan warga di tengah situasi darurat.

Dalam video yang dikutip pada Rabu, 24 Desember 2025, terlihat air sungai yang keruh akibat banjir tidak langsung diambil. Warga justru menggali lubang berjarak sekitar dua meter dari bibir sungai, sehingga air harus meresap terlebih dahulu melewati lapisan tanah, pasir, dan bebatuan.

“Kami berada di Desa Sekumur, dan saya benar-benar terkesan melihat antusiasme serta kreativitas warga di sini,” ujar pria yang merekam video tersebut.

Baca Juga: Rumor Kehamilan Taylor Swift Menguat! Komentar Podcaster Olahraga Ini Picu Spekulasi Publik

Ia menjelaskan bahwa air yang masuk ke dalam lubang galian mengalami proses penyaringan alami. Tanah, pasir, dan batuan di sekitar sungai berfungsi layaknya filter, menahan kotoran dan lumpur yang terbawa arus banjir.

“Di sini terjadi proses penyaringan secara alami antara pasir dan bebatuan sebelum air terkumpul di lubang,” lanjutnya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Meski lokasi galian sangat dekat dengan sungai yang airnya berwarna kecokelatan, air di dalam lubang terlihat jauh lebih bening dan tidak berbau, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Baca Juga: Ma’ruf Amin Resmi Mundur dari Wantim MUI, Buka Jalan Regenerasi Ulama

“Luar biasa, ini jauh lebih bersih dibandingkan air sungai langsung,” ucapnya sambil memperlihatkan perbedaan kondisi air.

Secara sederhana, warga Desa Sekumur memanfaatkan kontur tanah di bantaran sungai sebagai sistem filtrasi alami. Metode ini memang tidak menggantikan fungsi air minum layak konsumsi, namun sangat membantu warga dalam kondisi darurat pascabanjir.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X