INSIBERNEWS - Banjir bandang yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025 meninggalkan luka yang dalam dan pemandangan kehancuran di banyak wilayah.
Di antara daerah terdampak, Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu titik terparah, dengan ribuan rumah rata dengan tanah dan ribuan warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dalam waktu singkat.
Data terbaru yang dirilis BNPB pada 7 Desember 2025 mencatat sedikitnya 57 orang meninggal dunia dalam bencana ini, 23 orang dinyatakan hilang, dan 18 lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Tak Sanggup Atasi Banjir, 3 Bupati Aceh Disorot: Antara Realita Lapangan dan Gengsi Kepemimpinan
Di balik angka-angka itu, terdapat kisah pilu keluarga-keluarga yang kehilangan orang terkasih serta anak-anak yang terpisah dari orang tua mereka saat air bah datang tanpa peringatan yang cukup.
Kerusakan fisik pun terbilang masif. Lebih dari 2.800 rumah rusak berat, sementara puluhan fasilitas umum ikut hancur, mulai dari puskesmas, kantor pemerintahan, hingga jembatan yang menjadi akses utama antarwilayah. Banjir tidak hanya merobohkan bangunan, tapi juga memutus jalur ekonomi dan sosial warga.
Di tengah reruntuhan itu, satu nama desa menjadi simbol kehancuran sekaligus ketegaran warga: Desa Sekumur. Permukiman kecil di Aceh Tamiang itu kini nyaris tak lagi bisa dikenali. Di lokasi yang dulu dipenuhi rumah, kebun, dan suara anak-anak, kini hanya tampak lumpur tebal dan tumpukan kayu besar.
Baca Juga: Minta Tolong Tapi Ditinggal? Polemik BNPB Mencuat di Tengah Duka Banjir Aceh
Pemandangan yang paling menyayat hati adalah berdirinya satu bangunan yang masih bertahan: masjid desa. Di sekelilingnya, gelondongan kayu, batang-batang pohon, dan sisa bangunan berserakan tanpa pola. Masjid itu seolah menjadi saksi bisu bagaimana derasnya air menghantam kampung itu tanpa ampun.
Ketinggian air saat banjir disebut hampir menyentuh atap masjid. Banyak warga yang selamat mengaku mereka hanya bisa bertahan dengan memanjat tumpukan kayu atau sisa bangunan yang hanyut. Beberapa di antaranya sempat berpikir tidak akan selamat melihat arus air yang begitu kuat dan gelap.
Hendra, salah satu warga Desa Sekumur yang selamat, menceritakan detik-detik mencekam saat desanya dihantam banjir pada 27 November 2025.
“Air datang sangat cepat. Dalam hitungan menit, rumah-rumah mulai hanyut,” ujarnya.
Baca Juga: Tak Hanya Pertahanan, Prabowo Jelaskan Pentingnya Alutsista untuk Hadapi Bencana
Ia memperkirakan tinggi air kala itu mencapai 7 hingga 10 meter.
Artikel Terkait
Akses Layanan BRI Tetap Terjaga di Daerah Bencana Banjir Bandang melalui Satelit
Polri dan Kemenhut Lakukan Investigasi Terkait Kayu Gelondongan yang Terbawa Banjir di Sumatera
Dulu Dihujat, Netizen Kini Bela Virgoun Pasca Isu Perselingkuhan Inara Rusli
Keruk Habis Kekayaan Alam, WALHI Ungkap Banyak Bekas Tambang Ditinggal Tanpa Reboisasi
Momen Presiden Prabowo Melepas Atlet Indonesia ke SEA Games
BRI Dorong Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan dengan Gelar Aksi Tanam Pohon
Tak Hanya Pertahanan, Prabowo Jelaskan Pentingnya Alutsista untuk Hadapi Bencana
Banjir Aceh Bak Gelombang Kedua, Prabowo Turun Langsung dan Ingatkan Negara Tak Boleh Lambat Saat Rakyat Terluka
Minta Tolong Tapi Ditinggal? Polemik BNPB Mencuat di Tengah Duka Banjir Aceh
Tak Sanggup Atasi Banjir, 3 Bupati Aceh Disorot: Antara Realita Lapangan dan Gengsi Kepemimpinan