INSIBERNEWS - Kondisi penerbangan di Amerika Serikat terancam kacau setelah Menteri Perhubungan AS, Sean Duffy, mengumumkan rencana pengurangan kapasitas perjalanan udara hingga 10 persen di 40 bandara besar mulai Jumat pagi (7/11), jika penutupan pemerintahan (government shutdown) tak segera berakhir.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan besar yang dialami para pengendali lalu lintas udara (air traffic controllers) yang kini bekerja tanpa menerima gaji selama lebih dari sebulan. Mereka disebut mulai mengalami kelelahan mental dan fisik akibat beban kerja yang tinggi di tengah ketidakpastian politik.
Baca Juga: KPK Gerebek Rumah Dinas Gubernur Riau, Lanjutkan Penelusuran Kasus Dugaan Pemerasan di Pemprov
“Situasi ini benar-benar tidak ideal. Pengendali kami sudah bekerja keras tanpa menerima bayaran, dan kondisi tersebut tidak bisa dipertahankan terus-menerus,” ujar Kepala Badan Penerbangan Federal (FAA) Bryan Bedford dalam konferensi pers pada Rabu (5/11), dikutip dari BBC.
Bedford menjelaskan, keputusan untuk memangkas kapasitas penerbangan diambil demi menjaga keselamatan penumpang dan kru pesawat. Ia menegaskan, FAA tidak akan mengorbankan faktor keselamatan hanya demi menjaga jadwal penerbangan tetap normal di tengah krisis.
Baca Juga: Dampak Nyata Transformasi Digital, Qlola by BRI Raih Penghargaan di Anugerah Inovasi Indonesia 2025
“Kami tidak bisa membiarkan kelelahan para pengendali berdampak pada keselamatan penerbangan. Lebih baik kami kurangi jadwal terbang sementara waktu daripada memaksa mereka bekerja dalam kondisi tidak layak,” tambahnya.
Penutupan pemerintahan AS yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir terjadi karena kebuntuan politik di Kongres terkait persetujuan anggaran baru.
Dampaknya meluas ke berbagai sektor, termasuk layanan publik penting seperti transportasi udara, imigrasi, dan pengawasan keamanan.
Baca Juga: 6 Bulan Tanpa Gaji! MKD Vonis Sahroni, Eko, Nafa Urbach Langgar Kode Etik Berat
Beberapa maskapai besar seperti Delta, American Airlines, dan United Airlines dikabarkan telah menyiapkan langkah antisipasi. Mereka kemungkinan akan melakukan penjadwalan ulang penerbangan dan menawarkan kompensasi kepada penumpang yang terdampak pembatalan.
Sementara itu, bandara-bandara besar seperti JFK di New York, LAX di Los Angeles, dan O’Hare di Chicago disebut menjadi lokasi yang paling rentan terkena imbas pemangkasan tersebut.
Krisis ini juga memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri pariwisata. Para analis menilai, jika shutdown berlanjut lebih lama, dampaknya bisa menelan kerugian ekonomi miliaran dolar, memperlambat mobilitas bisnis, serta menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah federal.
Artikel Terkait
BRI Hadirkan Pengusaha Muda BRILiaN 2025 untuk Wujudkan UKM Naik Kelas
Curiga Ada Sesuatu yang Besar, Mahfud MD Kritik Kejagung soal Silfester Matutina yang Masih Buron
3 Mata Uang Senilai Rp1,6 M jadi Barang Bukti, KPK Resmi Tetapkan Gubernur Riau Tersangka Korupsi
Cak Imin Beberkan Persyaratan untuk Pemutihan Utang BPJS Kesehatan yang Dilakukan pada Akhir 2025
Siap Bangun 30 Rangkaian Kereta Baru, Prabowo Siapkan Anggaran Rp5 Triliun untuk KAI serta Singgung Jalur Kereta Strategis di Luar Jawa
Ahmad Sahroni hingga Uya Kuya Hadapi Sidang Putusan MKD atas Dugaan Langgar Etik Berujung Demo Agustus 2025
Tuai Sorotan Media Asing, IKN Disebut Bakal jadi Kota Hantu? Begini Tanggapan Menkeu Purbaya hingga Otorita IKN
6 Bulan Tanpa Gaji! MKD Vonis Sahroni, Eko, Nafa Urbach Langgar Kode Etik Berat
Dampak Nyata Transformasi Digital, Qlola by BRI Raih Penghargaan di Anugerah Inovasi Indonesia 2025
KPK Gerebek Rumah Dinas Gubernur Riau, Lanjutkan Penelusuran Kasus Dugaan Pemerasan di Pemprov