Tingginya harga tanah membuat rumah tapak di kota besar jadi barang mewah, mendorong masyarakat beralih ke apartemen atau tinggal di pinggiran dengan waktu tempuh yang panjang ke tempat kerja.
Ironisnya, banyak lahan kosong di pusat kota yang dikuasai pengembang tetap tak dibangun, menunggu harga yang lebih menggiurkan.
Baca Juga: Serangan DDoS Terbesar Sepanjang Sejarah: 37,4 Terabyte dalam 45 Detik, Dunia Siber Dibikin Panik
“Bayangkan, lahan strategis di tengah kota dibiarkan kosong bertahun-tahun, sementara rakyat kecil susah punya rumah,” keluh Rina, warga Jakarta yang sudah lima tahun mencari rumah terjangkau.
“Ini bukan cuma soal bisnis, tapi soal keadilan sosial.”
Baca Juga: Nekat! Seorang Pria Panjat Genteng Rumah Warga Usai Terciduk Lakukan Pelecehan Seksual di Bekasi
Fahri menambahkan, pemerintah sedang mencari cara untuk mengatasi masalah ini, termasuk dengan mendorong regulasi yang membatasi spekulasi tanah. Salah satu usulan adalah pajak progresif untuk lahan idle—tanah yang sengaja dibiarkan kosong oleh pemiliknya.
Kebijakan ini diharapkan bisa memaksa pengembang membangun atau melepas lahan mereka, sehingga pasokan rumah meningkat.
Selain itu, Kementerian PKP juga berencana memperluas program rumah subsidi di pinggiran kota dengan akses transportasi yang lebih baik.
Baca Juga: 5 Negara Paling Aman Jika Perang Dunia Ketiga Meletus, Apakah Indonesia Termasuk?
Namun, pengembang properti punya pandangan lain. Perwakilan Real Estate Indonesia (REI) berargumen bahwa tingginya harga tanah dan regulasi yang rumit membuat pembangunan rumah kurang menarik secara bisnis.
“Kami juga ingin bangun rumah, tapi biaya tanah dan izin sering bikin proyek tak layak secara ekonomi,” ujar seorang anggota REI.
Mereka juga menyoroti kurangnya insentif dari pemerintah untuk mendorong pembangunan hunian terjangkau.
Baca Juga: Sering Makan Frozen Food? Ini Efek Samping yang Bisa Bikin Tubuh Kacau
Situasi ini jadi alarm bagi semua pihak. Tanpa langkah konkret, krisis perumahan bisa makin parah, memperlebar ketimpangan sosial.
Artikel Terkait
MIRIS! Bocah 10 Tahun Tewas di Kamar Mess Pabrik Tebu, Pelaku Masih Diburu Polisi
5 Negara Paling Aman Jika Perang Dunia Ketiga Meletus, Apakah Indonesia Termasuk?
Waspada! Judi Online Bikin Anak Kecanduan Parah, Dampaknya Setara Narkoba
Nekat! Seorang Pria Panjat Genteng Rumah Warga Usai Terciduk Lakukan Pelecehan Seksual di Bekasi
Yamaha Luncurkan Fazzio dengan Tampilan Segar dan Warna Baru, Inovasi atau Gimmick?
Serangan DDoS Terbesar Sepanjang Sejarah: 37,4 Terabyte dalam 45 Detik, Dunia Siber Dibikin Panik
Korut Murka Usai Serangan AS ke Iran: Sebut Langgar Piagam PBB dan Ganggu Perdamaian Dunia
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS, Dunia Waspada Krisis Energi
Kembali Blunder, Netizen Soroti Komentar Tasyi Athasyia yang Tak Suka Disebut Mirip Elvy Sukaesih Sang Legendaris
Iran Tuntut IAEA Kutuk Serangan AS, Sebut Langgar Hukum Internasional dan Perjanjian Nuklir