INSIBERNEWS - Harga rumah di kota-kota besar Indonesia yang kian tak terjangkau bikin banyak pengembang properti berpaling dari membangun rumah ke menimbun tanah.
Menurut Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah, tingginya harga tanah di wilayah urban membuat pengembang lebih tertarik bermain sebagai spekulan tanah ketimbang fokus membangun hunian.
Fenomena ini jadi sorotan karena bikin mimpi punya rumah makin sulit, terutama buat masyarakat menengah ke bawah.
Fahri menjelaskan, harga tanah di perkotaan kini menyumbang hampir separuh dari harga jual rumah. Akibatnya, banyak pengembang yang seharusnya berfokus pada pembangunan perumahan justru beralih jadi “pemain tanah”.
Mereka membeli lahan dalam jumlah besar, menahannya, dan menjualnya kembali saat harga melonjak, tanpa membangun apa pun di atasnya.
Baca Juga: Iran Tuntut IAEA Kutuk Serangan AS, Sebut Langgar Hukum Internasional dan Perjanjian Nuklir
“Jangan kaget, banyak yang mengaku pengembang sebenarnya cuma spekulan tanah,” tegas Fahri dalam acara “People-First Housing: A Road Map From Homes To Jobs To Prosperity In Indonesia” di Jakarta, Senin (23/6/2025).
“Mereka lebih suka menimbun tanah karena keuntungannya jauh lebih besar dan cepat.”
Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS, Dunia Waspada Krisis Energi
Kondisi ini, kata Fahri, membuat persaingan untuk menguasai lahan di kota-kota besar semakin sengit. Tanah di lokasi strategis, seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, kini jadi komoditas panas yang harganya terus meroket.
Data dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang mencatat, harga tanah di Jakarta naik rata-rata 15-20% per tahun sejak 2020, jauh melampaui inflasi. Alhasil, pengembang lebih memilih “bermain aman” dengan menyimpan tanah ketimbang mengambil risiko membangun rumah yang pasarnya kian sulit dijangkau.
Baca Juga: Korut Murka Usai Serangan AS ke Iran: Sebut Langgar Piagam PBB dan Ganggu Perdamaian Dunia
Fenomena spekulasi tanah ini juga memperparah krisis perumahan di Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), backlog perumahan nasional mencapai 12,7 juta unit pada 2024, dengan mayoritas kebutuhan berpusat di kawasan urban.
Artikel Terkait
MIRIS! Bocah 10 Tahun Tewas di Kamar Mess Pabrik Tebu, Pelaku Masih Diburu Polisi
5 Negara Paling Aman Jika Perang Dunia Ketiga Meletus, Apakah Indonesia Termasuk?
Waspada! Judi Online Bikin Anak Kecanduan Parah, Dampaknya Setara Narkoba
Nekat! Seorang Pria Panjat Genteng Rumah Warga Usai Terciduk Lakukan Pelecehan Seksual di Bekasi
Yamaha Luncurkan Fazzio dengan Tampilan Segar dan Warna Baru, Inovasi atau Gimmick?
Serangan DDoS Terbesar Sepanjang Sejarah: 37,4 Terabyte dalam 45 Detik, Dunia Siber Dibikin Panik
Korut Murka Usai Serangan AS ke Iran: Sebut Langgar Piagam PBB dan Ganggu Perdamaian Dunia
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS, Dunia Waspada Krisis Energi
Kembali Blunder, Netizen Soroti Komentar Tasyi Athasyia yang Tak Suka Disebut Mirip Elvy Sukaesih Sang Legendaris
Iran Tuntut IAEA Kutuk Serangan AS, Sebut Langgar Hukum Internasional dan Perjanjian Nuklir