INSIBERNEWS - Kekhawatiran soal pecahnya Perang Dunia Ketiga makin santer terdengar, apalagi di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas di berbagai belahan dunia.
Jika skenario buruk itu benar-benar terjadi, tak sedikit orang mulai berpikir tentang negara mana saja yang dianggap paling aman untuk ditinggali atau menjadi tempat berlindung. Faktor seperti posisi geografis, netralitas politik, dan ketahanan pangan menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga: MIRIS! Bocah 10 Tahun Tewas di Kamar Mess Pabrik Tebu, Pelaku Masih Diburu Polisi
Salah satu negara yang hampir selalu masuk daftar aman adalah Swiss. Negeri ini sudah lama dikenal dengan posisi netralnya dalam konflik internasional, bahkan sejak Perang Dunia Pertama.
Selain itu, Swiss memiliki sistem pertahanan sipil yang sangat matang, termasuk bunker bawah tanah dan cadangan logistik nasional. Infrastruktur medis dan ekonomi yang kuat juga menjadikannya tempat ideal untuk bertahan di masa krisis global.
Baca Juga: Sering Makan Frozen Food? Ini Efek Samping yang Bisa Bikin Tubuh Kacau
Selandia Baru juga menjadi pilihan favorit para ahli dan pengamat geopolitik. Negara kepulauan ini berada jauh dari pusat konflik global, memiliki populasi yang relatif kecil, serta lingkungan yang stabil. Selain itu, Selandia Baru punya sistem pertanian dan sumber daya alam yang cukup kuat untuk menopang kebutuhan warganya sendiri jika terjadi isolasi global.
Baca Juga: Waspada! 5 Kesalahan Saat Makan Malam yang Bisa Bikin Tubuh Jadi Nggak Sehat
Kemudian ada Islandia, negara kecil di tengah Samudra Atlantik Utara yang juga terkenal dengan netralitasnya. Letaknya yang terpencil membuatnya jauh dari jalur strategis konflik dunia, dan minim kepentingan militer dari negara adidaya. Islandia juga mengandalkan energi terbarukan seperti panas bumi dan memiliki tingkat kriminalitas yang sangat rendah.
Bhutan pun masuk dalam daftar ini. Negara kecil di pegunungan Himalaya ini terkenal dengan pendekatan damainya terhadap politik luar negeri dan nilai-nilai spiritual yang kental. Dengan kebijakan yang sangat selektif terhadap pengaruh luar dan budaya mandiri, Bhutan relatif aman dari dampak konflik global yang berskala besar.
Baca Juga: Lagi Khusyuk Ibadah, Bom Bunuh Diri Meledak di Gereja Ortodoks Elias Suriah, 22 Orang Tewas
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Meskipun Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional, dalam konteks perang global, hal ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, Indonesia memiliki potensi menjadi jalur logistik penting dan bisa netral karena tidak terlalu dekat dengan negara-negara adidaya.
Namun, luas wilayah dan kepentingan ekonomi yang besar bisa menarik perhatian dalam konflik. Jadi, Indonesia punya potensi aman, tapi tetap perlu memperkuat pertahanan dan diplomasi aktif untuk menjaga posisi netralnya.
Artikel Terkait
Iran Menggertak Balas Serang Pangkalan AS, Timur Tengah di Ujung Tanduk
Alami Luka Parah, Suami Inul Daratista Masuk IGD hingga Operasi Gegara Masuk Kolam
Polemik Skandal Chromebook, Nadiem Makarim Diperiksa Kejagung Hari Ini
Modus Makan Bergizi Gratis, Warga Nganjuk Sikat Data Pribadi untuk Bikin Ratusan Akun Shopee
Lagi Khusyuk Ibadah, Bom Bunuh Diri Meledak di Gereja Ortodoks Elias Suriah, 22 Orang Tewas
Miris! Ibu Rumah Tangga Jadi Kurir Narkoba, BNN: Banyak yang Terjebak Jaringan Sindikat
Dugaan Gratifikasi di MPR RI, KPK Tetapkan Tersangka tapi Masih Rahasiakan Identitas
Waspada! 5 Kesalahan Saat Makan Malam yang Bisa Bikin Tubuh Jadi Nggak Sehat
Sering Makan Frozen Food? Ini Efek Samping yang Bisa Bikin Tubuh Kacau
MIRIS! Bocah 10 Tahun Tewas di Kamar Mess Pabrik Tebu, Pelaku Masih Diburu Polisi