Tambah 13 Ton Emas, China Pecahkan Rekor Cadangan dan Tingkatkan Strategi Diversifikasi

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Senin, 21 April 2025 | 16:08 WIB
Ilustrasi Emas (Foto : Dok/Treasury)
Ilustrasi Emas (Foto : Dok/Treasury)

INSIBERNEWS - Bank Sentral China kembali menambah pundi-pundi cadangan emasnya dengan membeli 13 ton tambahan sejak awal tahun 2025.

Dengan akumulasi tersebut, total kepemilikan emas Negeri Tirai Bambu kini mencapai angka mencengangkan, yakni 2.292 ton—angka tertinggi dalam sejarah kepemilikan cadangan emas mereka.

Baca Juga: KPK Dalami Rekayasa Pengadaan Iklan Bank BJB, Dugaan Kerugian Negara Capai Ratusan Miliar

Menurut laporan terbaru dari Kitco yang dikutip Senin (21/4/2025), lonjakan ini turut mendorong proporsi emas dalam total aset cadangan resmi China menjadi 6,5 persen dalam denominasi dolar AS.

Angka tersebut naik dari 6,0 persen pada bulan sebelumnya dan melonjak tajam dari 4,6 persen dibandingkan tahun lalu. Para analis dari BMO Capital Markets menyebut bahwa level ini merupakan yang tertinggi yang pernah dicatatkan China sejauh ini.

Baca Juga: Indonesia–Malaysia Kolaborasi Susun Kurikulum Agama Moderat, Siap Cetak Generasi Inklusif

Langkah akumulasi emas ini bukan hanya soal diversifikasi aset biasa. Banyak pihak melihatnya sebagai bagian dari strategi geopolitik dan ekonomi jangka panjang China.

Ketegangan dagang yang masih terus memanas antara China dan Amerika Serikat disebut-sebut menjadi salah satu pemicu utama langkah agresif ini.

Diversifikasi cadangan ke emas dinilai sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan melindungi kekayaan nasional dari fluktuasi geopolitik.

Baca Juga: Serangan Udara AS Guncang Sana’a dan Pelabuhan Yaman, Puluhan Nyawa Melayang

Fenomena pembelian emas besar-besaran ini tidak hanya dilakukan oleh China. Tren global menunjukkan bahwa semakin banyak bank sentral di berbagai negara mulai mengalihkan sebagian cadangannya ke emas, yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai yang stabil di tengah ketidakpastian global.

Selain perang dagang, kekhawatiran terhadap inflasi, devaluasi mata uang, dan potensi resesi juga menjadi alasan kuat di balik tren ini.

Baca Juga: Dunia Berduka, Paus Fransiskus Meninggal Dunia Di Usia di 88 Tahun

Langkah China ini memberi sinyal jelas bahwa logam mulia kembali menjadi pilar penting dalam strategi keuangan negara.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X