INSIBERNEWS – Penelitian inovatif dari tim ilmuwan di University of Lincoln, Inggris, mengungkap temuan mengejutkan tentang kura kura yang selama ini dikenal sebagai hewan berdarah dingin yang pasif dan tidak emosional.
Studi tersebut menunjukkan bahwa kura-kura kaki merah (Chelonoidis carbonaria) tidak hanya mampu bereaksi terhadap lingkungannya, tetapi juga bisa merasakan suasana hati jangka panjang.
Seperti perasaan optimis maupun cemas hal yang sebelumnya hanya diasosiasikan dengan hewan mamalia atau burung.
Baca Juga: Berkat Pinjaman BRI, Supplier Ikan Ini Berhasil Kembangkan Usaha hingga Jadi Pemasok Program MBG
Sebanyak 15 ekor kura-kura kaki merah dijadikan subjek dalam riset yang menggunakan pendekatan cognitive bias test atau tes bias kognitif.
Tes ini lazim digunakan untuk mengukur kondisi emosional hewan, terutama dalam mengenali bagaimana mereka menanggapi situasi ambivalen.
Hal itu untuk menguji apakah mereka menunjukkan reaksi yang menggambarkan harapan positif atau justru ketakutan terhadap kemungkinan buruk.
Baca Juga: Fenomena Musik Horeg Picu Polemik, Puluhan Ponpes di Pasuruan Fatwakan Haram
Bias kognitif semacam ini biasanya diasosiasikan dengan mood atau suasana hati dalam jangka panjang.
Dalam praktiknya, para peneliti melatih kura-kura untuk mengenali dua titik lokasi berbeda dalam sebuah ruang uji.
Satu titik selalu diberi hadiah berupa makanan lezat (pisang, yang sangat disukai kura-kura), dan satu titik lainnya tidak diberi apa pun.
Baca Juga: Menjelang Upacara 17 Agustus, Dua Pelajar Bekasi Terpilih Jadi Paskibraka Nasional dan Provinsi!
Setelah pola ini dipahami oleh kura-kura, para ilmuwan kemudian memperkenalkan titik lokasi ketiga yang diletakkan di antara kedua titik sebelumnya dan tidak pernah mereka kenali sebelumnya.
Respon kura-kura terhadap titik ketiga ini menjadi cerminan dari kondisi emosional mereka: apakah mereka “berani berharap” bahwa titik tersebut juga akan mengandung makanan (tanda optimisme), atau justru menghindar karena takut itu akan jadi pengalaman negatif.
Hasil dari penelitian ini mencengangkan. Kura-kura yang tinggal di lingkungan yang kaya akan rangsangan positif.
Baca Juga: Gaji Sentuh Milyaran Per Episode, Aktor Korea Mulai Ditinggal OTT?
Seperti kehadiran berbagai objek, tanaman hidup, serta variasi dalam struktur habitat—cenderung menunjukkan perilaku yang lebih optimis.
Mereka secara aktif dan cepat mendekati titik ambigu, seolah-olah berharap bahwa akan ada makanan juga di sana.
Sebaliknya, kura-kura yang hidup di lingkungan yang minim rangsangan dan kurang variasi terlihat lebih pesimis.
Baca Juga: Gaji Sentuh Milyaran Per Episode, Aktor Korea Mulai Ditinggal OTT?
Mereka mendekati titik ambigu dengan lambat atau bahkan tidak sama sekali, yang menandakan adanya suasana hati negatif atau keraguan.
Tak berhenti di situ, para peneliti juga mengeksplorasi apakah optimisme ini berkaitan dengan kecemasan.
Untuk mengukurnya, kura-kura kemudian dipindahkan ke lingkungan baru dan diperkenalkan pada objek yang tidak mereka kenal sebelumnya.
Baca Juga: Siap Jadi Tren Fashion! Jennie BLACKPINK Tampil dengan Sepatu 'Kaki Telanjang' yang Unik
Perilaku mereka dipantau untuk menilai respons kecemasan. Menariknya, kura-kura yang sebelumnya menunjukkan reaksi optimis dalam tes bias kognitif juga tampak lebih tenang dan menjelajah area baru dengan lebih percaya diri.
Sebaliknya, kura-kura yang pesimis lebih cenderung menyendiri, diam, dan cemas dalam situasi asing.
Juru bicara dari University of Lincoln menyatakan bahwa temuan ini merupakan salah satu bukti paling jelas bahwa bahkan hewan reptil pun memiliki pengalaman emosional yang berkelanjutan.
Baca Juga: Respon El Rumi Terkait Bullying yang Dialami Adik Perempuannya: No Comment, Biar Kakak Al dan Ayah yang Urus
"Ini adalah bukti pertama yang sangat kuat bahwa hewan seperti kura-kura yang sering kita anggap sebagai makhluk sederhana sebenarnya juga bisa mengalami suasana hati dalam jangka panjang," ujarnya.
Studi ini bukan hanya penting secara akademik, tetapi juga punya implikasi besar terhadap kesejahteraan hewan, terutama dalam dunia konservasi, perawatan di kebun binatang, hingga praktik pemeliharaan hewan eksotis oleh individu.
Para ilmuwan menyerukan agar lingkungan hidup kura-kura baik di penangkaran maupun di habitat buatan seperti akuarium rumah tidak lagi dibuat monoton.
Baca Juga: Laporan Kasus ODGJ Meningkat di Bekasi, Relawan Sosial Bergerak Aktif Siang dan Malam
Variasi lingkungan dan stimulasi positif ternyata sangat memengaruhi kondisi emosional dan mental mereka.
“Jika kita ingin kura-kura hidup sehat, bukan hanya secara fisik tapi juga mental, maka kita harus mengubah cara kita memperlakukan mereka. Mereka bukan benda pasif, tapi makhluk hidup yang bisa merasa dan bereaksi,” lanjut peneliti.
Penemuan ini membuka pintu bagi penelitian lanjutan mengenai emosi dan kesejahteraan pada spesies reptil lainnya seperti iguana, kadal, dan ular.
Baca Juga: Misteri Kematian Arya Daru, Polisi Ungkap Fakta Baru Soal CCTV dan Autopsi
Ini juga menjadi pengingat bahwa keberadaan perasaan dan mood bukanlah hak eksklusif mamalia atau hewan sosial tingkat tinggi, tetapi bisa jadi merupakan karakteristik yang lebih luas di kerajaan hewan.
Dengan demikian, studi ini menantang persepsi lama yang menganggap bahwa hanya hewan dengan otak besar atau struktur sosial kompleks yang memiliki kehidupan emosional.
Sebaliknya, bahkan kura-kura yang lambat dan pendiam pun memiliki dunia batin yang mungkin selama ini luput dari perhatian manusia.
Baca Juga: Misteri Kematian Arya Daru, Polisi Ungkap Fakta Baru Soal CCTV dan Autopsi