INSIBERNEWS - Peluang Indonesia untuk menjadi pemain utama di industri kendaraan listrik (EV) global makin terbuka lebar.
Hal ini disampaikan oleh pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, yang menilai cadangan nikel Indonesia dan strategi hilirisasi baterai menjadi dua kekuatan utama yang tak bisa diremehkan.
Baca Juga: Vincent Verhaag Demi Istri dan Anak-Anaknya Ia Resmi Jadi WNI dan Melepas Kewarganegaraan Belanda
Menurut Yannes, Indonesia saat ini memegang sekitar 26 persen cadangan nikel dunia, menjadikannya negara dengan potensi paling strategis dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global.
Nikel adalah komponen utama dalam pembuatan baterai lithium-ion, terutama jenis NMC (nickel, manganese, cobalt) yang banyak digunakan produsen EV ternama.
Baca Juga: Kapal Raksasa MV BYD Zhengzhou Sandar di Tanjung Priok, Angkut 7.000 Mobil Sekaligus
"Cadangan nikel kita itu seperti 'emas baru'. Kalau dikelola dengan benar dan tidak diekspor dalam bentuk mentah, ini bisa jadi kunci Indonesia memimpin industri EV global," ujar Yannes, Kamis (7/8).
Ia menambahkan bahwa kebijakan hilirisasi yang sedang dijalankan pemerintah merupakan langkah tepat. Tidak hanya menghentikan ekspor bahan mentah, tapi juga mendorong lahirnya ekosistem industri di dalam negeri.
Salah satu contohnya adalah Program Danantara, yang digagas pemerintah untuk mendorong pembiayaan proyek-proyek strategis di sektor ini.
Baca Juga: Park Bom Hiatus Lagi, D-Nation Ungkap Kondisi Kesehatan Sang Idol Memburuk
Program Danantara disebut telah menyiapkan dana pembiayaan sebesar Rp618 triliun untuk mendukung 18 proyek hilirisasi nasional. Fokus utamanya adalah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, yang dianggap sebagai jantung dari revolusi kendaraan masa depan.
Salah satu proyek andalan dalam program ini adalah fasilitas produksi baterai di Karawang, Jawa Barat. Proyek tersebut telah memasuki tahap produksi baterai NMC berkualitas tinggi, dan dikerjakan melalui kolaborasi antara BUMN, perusahaan swasta nasional, serta mitra asing.
Baca Juga: Terbongkar Jaringan Adopsi Bayi Internasional: 43 Korban, 17 Sudah Dikirim ke Singapura
"Proyek Karawang ini sangat penting. Ini bukan sekadar pabrik, tapi simbol bahwa Indonesia bisa naik kelas dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi negara manufaktur teknologi tinggi," ungkap Yannes.
Artikel Terkait
Dikira Harmonis, Acha Septriasa Ternyata Sudah Lama Bercerai dari Suami!
Beda Dari Yang Lain Charly Van houtten Akan Beri Hadiah Cafe Yang Memutarkan Lagunya di Tengah Ramai Soal Hak Cipta Karya
Prabowo Disebut jadi Presiden Paling Sering Kunjungi ITB Setelah Soekarno
Tragis! Suami Bakar Istri Hidup-Hidup di Depan Warung Makan Gegara Cemburu
Digerebek Saat Nyabu di Kantor Kecamatan, PNS dan THL di Bangkalan Diamankan Polisi
Terbongkar Jaringan Adopsi Bayi Internasional: 43 Korban, 17 Sudah Dikirim ke Singapura
Vincent Verhaag Demi Istri dan Anak-Anaknya Ia Resmi Jadi WNI dan Melepas Kewarganegaraan Belanda
Park Bom Hiatus Lagi, D-Nation Ungkap Kondisi Kesehatan Sang Idol Memburuk
Mendag Soal Fenomena Rojali: Lihat-lihat Dulu Itu Hak Konsumen
Kapal Raksasa MV BYD Zhengzhou Sandar di Tanjung Priok, Angkut 7.000 Mobil Sekaligus