INSIBERNEWS - Harapan tinggi terhadap lonjakan penjualan mobil listrik di Indonesia rupanya belum sejalan dengan kenyataan di lapangan. Meski diguyur berbagai insentif pemerintah, tren pasar justru menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan, terutama pada Mei 2025.
Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) sepanjang Mei hanya mencapai 6.391 unit.
Angka ini turun 13,63 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sebuah penurunan yang cukup mencolok di tengah dorongan besar dari sisi regulasi dan insentif fiskal.
Baca Juga: Mobil Bekas Rasa Baru Bikin Geger, Industri Otomotif China Diterpa Skandal Penjualan
Salah satu ironi terbesar dari data tersebut adalah dominasi BYD, produsen mobil listrik asal China. Meski menguasai pangsa pasar tertinggi, hampir seluruh unit BYD yang beredar di Indonesia masih berupa produk impor utuh (completely built-up/CBU).
Hal ini memunculkan kekhawatiran soal kurangnya kontribusi terhadap industri lokal dan rendahnya efek domino bagi rantai pasok dalam negeri.
Baca Juga: Harley-Davidson Masuk MotoGP 2026, Siap Guncang Dunia Balap Lewat Bagger Series
Model BYD Sealion 7 tetap menjadi primadona dengan penjualan 1.232 unit, meskipun angka itu menurun drastis hingga 31 persen dibanding April. Di bawahnya, ada BYD M6 yang membukukan 1.184 unit dan Denza D9—juga bagian dari grup BYD—dengan 630 unit. Ketiganya merupakan unit impor langsung dari pabrik di China tanpa keterlibatan produksi lokal.
Baca Juga: Mobil Bekas China Laris Manis di Negara-Negara Mitra BRI, Transaksi Tembus 1 Miliar Yuan
Namun, tidak semua kabar datang dengan nada pesimis. Beberapa produsen mulai menunjukkan hasil positif dari lini perakitan lokal. Salah satunya adalah Chery J6, SUV listrik bergaya off-road yang dirakit di Bekasi, dan berhasil menjual 580 unit.
Sementara itu, trio Wuling—Air EV, Cloud EV, dan Binguo EV—juga masih bertahan dengan angka penjualan yang cukup stabil, masing-masing 419, 419, dan 210 unit.
Baca Juga: Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund
Di sisi lain, pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 telah menetapkan insentif berupa PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10 persen untuk kendaraan listrik, baik impor maupun produksi dalam negeri.
Sayangnya, stimulus ini belum mampu memicu lonjakan penjualan secara menyeluruh, baik di segmen listrik maupun otomotif secara umum. Penjualan wholesale periode Januari–Mei 2025 tercatat turun 5,5 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi 316.981 unit. Penjualan retail pun tak lebih baik, anjlok 9,2 persen menjadi 328.852 unit.
Artikel Terkait
Honda Tambah Jaringan Diler Mobil Bekas Bersertifikasi, Kini Hadir di Jakarta Selatan
Industri Motor Listrik Lesu Lagi, Pelaku Desak Pemerintah Segera Keluarkan Subsidi Baru
Viral Anak Main Keluar dari Sunroof Saat Mobil Jalan: Ahli Sebut Ini Bukan Gaya-Gayaan Tapi Nyawa Taruhannya!
Tesla Kalah Saing di China, BYD dan Xiaomi Jadi Favorit Baru Penggemar Mobil Listrik
Dorong Ekosistem Baterai EV, Indonesia Gandeng Raksasa Tambang Prancis
Dituding Praktik Perbudakan, Raksasa EV China BYD Digugat Jaksa Brasil Rp740 Miliar
Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund
Mobil Bekas China Laris Manis di Negara-Negara Mitra BRI, Transaksi Tembus 1 Miliar Yuan
Harley-Davidson Masuk MotoGP 2026, Siap Guncang Dunia Balap Lewat Bagger Series
Mobil Bekas Rasa Baru Bikin Geger, Industri Otomotif China Diterpa Skandal Penjualan