INSIBERNEWS - Pasar mobil bekas China kini tengah bergairah, terutama setelah negara itu membuka keran ekspor kendaraan bekas secara penuh sejak Maret 2024 lalu.
Kebijakan ini langsung berdampak besar terhadap perdagangan luar negeri, khususnya dengan negara-negara yang tergabung dalam inisiatif Belt and Road Initiative (BRI). Permintaan melonjak, dan nilai transaksinya kini sudah melampaui angka 1 miliar Yuan atau setara lebih dari Rp2,2 triliun.
Baca Juga: Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund
Kesepakatan besar terkait ekspor mobil bekas ini diteken dalam sebuah gelaran dagang yang berlangsung di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, pada Rabu lalu.
Dalam acara itu, berbagai pelaku usaha otomotif dan importir dari negara-negara mitra BRI melakukan penandatanganan kerja sama untuk memperlancar pengiriman kendaraan dari Tiongkok ke pasar internasional.
Baca Juga: Dituding Praktik Perbudakan, Raksasa EV China BYD Digugat Jaksa Brasil Rp740 Miliar
Menurut data dari penyelenggara, lonjakan minat terhadap mobil bekas asal China ini tidak lepas dari kombinasi antara harga yang jauh lebih kompetitif serta kondisi unit yang terbilang prima. Banyak dari kendaraan yang diekspor merupakan hasil lelang kendaraan perusahaan, mobil eks sewa, hingga unit bekas pribadi dengan perawatan baik.
Hal ini menjadikan mobil-mobil bekas China sebagai pilihan menarik bagi konsumen di negara berkembang yang ingin kendaraan berkualitas dengan bujet terbatas.
Baca Juga: Dorong Ekosistem Baterai EV, Indonesia Gandeng Raksasa Tambang Prancis
Di sisi lain, China juga menunjukkan keseriusannya dalam menjadikan sektor mobil bekas sebagai motor baru pertumbuhan ekspor. Pemerintahnya memberikan dukungan logistik, regulasi, serta akses pembiayaan ekspor kepada perusahaan otomotif yang ingin memperluas pasar ke luar negeri.
Tidak hanya itu, pelatihan dan sertifikasi mekanik ekspor juga digalakkan agar kualitas inspeksi kendaraan semakin terjaga.
Baca Juga: Tesla Kalah Saing di China, BYD dan Xiaomi Jadi Favorit Baru Penggemar Mobil Listrik
Kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika menjadi wilayah dengan pertumbuhan permintaan tertinggi. Negara-negara ini rata-rata masih memiliki pasar kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel yang aktif, sehingga mobil-mobil bekas produksi China dengan sistem konvensional pun masih sangat diminati. Tak sedikit pula yang mencari mobil listrik bekas buatan China, mengingat tren global menuju kendaraan ramah lingkungan.
Artikel Terkait
Investasi Kendaraan Listrik Menggeliat, Raksasa Otomotif China dan Eropa Lirik Indonesia
Honda Alih Fokus ke Mobil Hybrid, Pangkas Ambisi Mobil Listrik Penuh
Elon Musk Tegaskan Masih Betah Pimpin Tesla: Kalau Saya Meninggal, Baru Mundur
Honda Tambah Jaringan Diler Mobil Bekas Bersertifikasi, Kini Hadir di Jakarta Selatan
Industri Motor Listrik Lesu Lagi, Pelaku Desak Pemerintah Segera Keluarkan Subsidi Baru
Viral Anak Main Keluar dari Sunroof Saat Mobil Jalan: Ahli Sebut Ini Bukan Gaya-Gayaan Tapi Nyawa Taruhannya!
Tesla Kalah Saing di China, BYD dan Xiaomi Jadi Favorit Baru Penggemar Mobil Listrik
Dorong Ekosistem Baterai EV, Indonesia Gandeng Raksasa Tambang Prancis
Dituding Praktik Perbudakan, Raksasa EV China BYD Digugat Jaksa Brasil Rp740 Miliar
Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund