news

WADUH! Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah dan BI Perkuat Sinergi

Kamis, 4 Juni 2026 | 13:24 WIB
Ilustrasi Dollar (Photo : Reuters/Dado Ruvic)

 

INSIBERNEWS - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin menjadi sorotan setelah mata uang Garuda menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Kondisi ini memicu perhatian pemerintah yang mulai menyiapkan langkah koordinasi lebih intensif guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengembalikan kepercayaan investor. 

Baca Juga: KPK Bongkar Dugaan Pemerasan di Kementerian Imigrasi, Silmy Karim Resmi Masuk Tahanan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah siap memperkuat sinergi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) apabila diperlukan.

Namun, ia menekankan bahwa kewenangan utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di tangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter nasional. 

Menurut Purbaya, pemerintah saat ini masih memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjalankan berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki.

Meski demikian, koordinasi lintas lembaga akan terus dilakukan untuk memastikan kondisi pasar tetap terkendali di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. 

Baca Juga: Iran Siapkan Pemakaman Mendiang Akbar Ali Khamenei, 20 Juta Warga Diperkirakan Hadir

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap berbagai faktor, mulai dari penguatan dolar AS, arus modal keluar dari negara berkembang, hingga sentimen investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Sejumlah lembaga pemeringkat internasional bahkan telah menyoroti aspek kredibilitas dan konsistensi kebijakan ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. 

Baca Juga: Kejagung Tahan Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, Kasus Jual Beli Titik SPPG Memanas

Data perdagangan terbaru menunjukkan rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.045 per dolar AS.

Kondisi tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan Asia sepanjang tahun ini. 

Baca Juga: Hari Ini Rupiah Kembali Melemah, Gejolak Timur Tengah dan AS Jadi Pemicu Utama

Halaman:

Tags

Terkini