news

Emas Diprediksi Terbang Tinggi di Penghujung 2026, Sinyal Bahaya untuk Ekonomi Global?

Selasa, 27 Januari 2026 | 13:43 WIB
Ilustrasi Emas (Foto : Dok/Treasury)

INSIBERNEWS - Harga emas dunia kian menunjukkan tren yang tak biasa. Logam mulia itu diproyeksikan mampu menyentuh level USD6.000 per ons pada akhir 2026, bahkan berpotensi menembus USD10.000 pada penghujung 2029 jika tekanan global terus berlanjut.

Saat ini saja, harga emas telah mencetak rekor baru dengan melampaui USD5.000 per ons. Lonjakan tersebut terbilang sangat cepat, mengingat hanya dalam hitungan bulan sebelumnya emas masih bergerak di kisaran USD4.000 per ons.

Baca Juga: Heboh! Jule Akhirnya Buka Suara Usai Cerai, Akui Khilaf dan Sampaikan Permintaan Maaf ke Publik

Kenaikan tajam ini mencerminkan perubahan besar dalam perilaku investor global. Di tengah ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, dan ketegangan pasar keuangan, emas kembali diposisikan sebagai aset lindung nilai paling aman.

Peneliti Senior Brookings Institution sekaligus mantan Kepala Ekonom Institute of International Finance, Robin Brooks, menilai reli emas kali ini bukan sekadar siklus biasa. Menurutnya, lonjakan harga emas justru membawa pesan serius tentang kondisi sistem keuangan global.

Baca Juga: KPK Balas Sindiran Noel soal OTT, Minta Fokus Hadapi Sidang dan Hentikan Manuver

“Kenaikan harga logam mulia ini sungguh mencengangkan dan sangat mengkhawatirkan,” kata Robin Brooks, dikutip dari Business Insider, Senin (26/1/2026).

Brooks menilai lonjakan ekstrem harga emas sering kali muncul saat kepercayaan terhadap sistem moneter dan kebijakan ekonomi mulai melemah.

Dalam situasi tersebut, investor cenderung menjauh dari aset berisiko dan mencari perlindungan di instrumen yang dianggap paling stabil.

Baca Juga: Armada AS Bergerak ke Timur Tengah, Iran Siaga Penuh dan Ancam Balasan

Faktor lain yang ikut mendorong harga emas antara lain kebijakan suku bunga global, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, serta kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang. Kombinasi faktor ini membuat permintaan emas terus menguat.

Di sisi lain, kenaikan harga yang terlalu agresif juga memunculkan kekhawatiran baru. Jika reli emas dipicu oleh ketakutan kolektif pasar, kondisi ini bisa menjadi indikator rapuhnya fondasi ekonomi global.

Bagi negara berkembang, lonjakan harga emas dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi memperkuat cadangan devisa, namun di sisi lain mencerminkan tekanan eksternal yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi domestik.

Baca Juga: 28 Perusahaan Didenda Triliunan Rupiah, DPR Minta Pemulihan Lingkungan Jadi Prioritas Utama

Halaman:

Tags

Terkini