INSIBERNEWS - Musim hujan dengan curah tinggi sering kali identik dengan banjir dan kemacetan. Namun, di balik genangan air yang terlihat sepele, tersembunyi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, salah satunya leptospirosis, penyakit zoonosis yang berpotensi mematikan dan kerap luput dari perhatian.
Di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi dan sistem sanitasi yang kurang optimal, risiko penularan leptospirosis meningkat tajam saat musim hujan tiba.
Leptospirosis dan Penyakit Lingkungan yang Mengintai Saat Musim Hujan
Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mencatat bahwa peningkatan intensitas hujan hampir selalu diikuti dengan lonjakan penyakit berbasis lingkungan.
Baca Juga: Menkeu Siapkan Mutasi Besar-besaran di Ditjen Pajak, Sinyal Bersih-bersih Birokrasi
Selain leptospirosis, sejumlah penyakit lain yang perlu diwaspadai meliputi diare, demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hingga demam tifoid akibat air dan makanan yang terkontaminasi.
Genangan air banjir menjadi media ideal penyebaran kuman penyakit. Lingkungan yang lembap, ditambah menurunnya kebersihan diri saat banjir, memperbesar peluang bakteri masuk ke tubuh manusia, terutama di kawasan permukiman padat.
Penularan Leptospirosis Berasal dari Urin Tikus
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang umumnya berasal dari urin tikus. Bakteri ini dapat bertahan hidup di air, lumpur, sungai, hingga selokan yang tercemar.
Baca Juga: Operasi SAR Tuntas, Seluruh Korban Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung Berhasil Ditemukan
Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui kulit yang lecet, luka kecil, atau selaput lendir seperti mata dan mulut. Kontak langsung dengan air banjir tanpa perlindungan menjadi salah satu faktor risiko utama.
Kemenkes menekankan pentingnya kebiasaan sederhana namun krusial, seperti mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun setelah terpapar air banjir, sebagai langkah pencegahan efektif.
Gejala Awal Sering Dikira Sebagai Flu
Salah satu alasan leptospirosis berbahaya adalah karena gejala awalnya sering menyerupai penyakit ringan. Penderita biasanya mengalami demam mendadak, tubuh lemas, sakit kepala, mata memerah, serta nyeri otot—terutama di bagian betis.
Baca Juga: Imbas Cuaca Ekstrem, Sekolah di Jakarta Jalani PJJ Selama Sepekan
Akibatnya, banyak orang memilih melakukan pengobatan mandiri dan menunda pemeriksaan medis. Padahal, jika tidak ditangani dengan cepat, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti penyakit kuning, gangguan ginjal, hingga perdarahan yang mengancam nyawa.
Masyarakat diimbau untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut, terutama setelah kontak dengan air banjir.