INSIBERNEWS - Singapura sedang menghadapi tahun yang berat. Sepanjang 2025, tren pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bergulir dan menambah kecemasan para pekerja, terutama mereka yang bergelut di sektor-sektor bernilai tinggi.
Data terbaru dari Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) mencatat sedikitnya 19.800 pekerja kehilangan pekerjaan hanya dalam sembilan bulan pertama tahun ini—angka yang membuat banyak pihak mengernyit.
Dari sekian banyak sektor, properti menjadi yang paling terpukul. Sebanyak 4.400 pekerja terpaksa angkat kaki dari industri ini, diikuti sektor informasi dan komunikasi yang mencatat 4.100 PHK.
Tidak berhenti di situ, gelombang pemangkasan tenaga kerja juga merembet ke professional services, retail trade, wholesale trade, pendidikan, hingga food & beverage.
Fenomena ini terasa janggal karena justru terjadi di sektor-sektor yang selama ini menjadi magnet pekerja lokal maupun ekspatriat bergaji besar. Banyak analis menilai, tren PHK massal di level profesional ini menandakan ada tekanan struktural yang tidak bisa diabaikan begitu saja—baik dari sisi pasar global maupun model bisnis perusahaan-perusahaan besar di negeri singa tersebut.
Di sisi lain, pertumbuhan tenaga kerja malah terjadi di sektor dengan gaji rendah, seperti konstruksi dan pekerja rumah tangga migran.
Kenaikan tenaga kerja di sektor-sektor ini disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah menutup kekurangan tenaga fisik yang terus meningkat, namun tetap menimbulkan ironi tersendiri bagi pekerja berkeahlian tinggi yang justru kehilangan tempat.
Baca Juga: Kebakaran Hebat Hanguskan Apartment di Hongkong, Sedikitnya 44 Orang Tewas dan Ratusan Hilang
Yang menarik, pemerintah sempat menegaskan bahwa kebutuhan tenaga teknologi informasi (TI) sesungguhnya naik. Namun, kenyataannya sektor informasi & komunikasi justru menyusut signifikan.
Dalam dua tahun terakhir, hampir 10.000 pekerja TI hengkang dari industri ini, baik karena PHK maupun pergeseran strategi perusahaan yang mulai mengurangi posisi digital tertentu.
Sebagian dari mereka memang sudah berlabuh ke industri lain yang masih membutuhkan kemampuan berbasis teknologi—mulai dari layanan kesehatan, logistik, sampai sektor pendidikan yang sedang mengalami digitalisasi cepat.
Meski begitu, angka penurunannya tetap memberi sinyal bahwa ada penataan ulang besar-besaran di sektor yang selama ini dipandang sebagai penopang ekonomi masa depan.
Baca Juga: Aceh Dikepung Banjir, 10 Daerah Masuk Status Darurat Hidrometeorologi