news

Brazil Puji Habis Program 'Makan Gratis' Prabowo, Presiden Lula: Indonesia-Brasil Ditakdirkan Jadi Kekuatan Ekonomi Baru Dunia.

Jumat, 24 Oktober 2025 | 09:32 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat keterangan pers bersama Presiden Republik Federasi Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 23 Oktober 2025. (Foto: BPMI Setpres)

Sebagai "suara efektif dari Global Selatan," kedua negara juga bertekad untuk mengambil posisi yang layak dalam tatanan dunia yang terus bergejolak dan bertransformasi.

“Dunia yang sedang berkembang berutang banyak kepada Indonesia,” sebut Presiden Lula, mengakui peran historis dan masa depan Indonesia.

Baca Juga: Alasan Pemerintah Bentuk Kementerian Haji, Prabowo: Permintaan Langsung dari Arab Saudi

Pujian Internasional 

Momen paling menarik dalam pertemuan ini adalahapresiasi khusus Presiden Lula terhadap salah satu kebijakan unggulan pemerintahan Presiden Prabowo: Program Makan Bergizi Gratis.

Presiden Lula, yang memimpin inisiatif Aliansi Global Melawan Kelaparan dan Kemiskinan selama kepresidenan Brasil di G20, melihat kebijakan ini sebagai perwujudan nyata dari aksi global.

“Kita tahu bahwa tidak ada pembangunan berkelanjutan tanpa mengatasi kelaparan dan kemiskinan,” jelas Lula.

Ia menegaskan bahwa kebijakan makan sekolah dari pemerintahan Presiden Prabowo layak mendapat pengakuan internasional dan merupakan bagian dari program percepatan pelaksanaan Aliansi Global tersebut.

Pujian ini memperkuat legitimasi dan relevansi global dari program yang dicanangkan Presiden Prabowo.

Baca Juga: Targetkan 500 Sekolah, Prabowo Ungkap 166 Sekolah Rakyat Sudah Berdiri untuk Putus Kemiskinan

Pesan Penutup
Menutup pernyataannya, Presiden Lula memberikan pesan yang sarat makna mengenai pentingnya kemandirian.

Ia mendorong penguatan hubungan di berbagai sektor—perdagangan, ilmiah, teknologi, budaya, dan politik—agar kedua negara semakin tidak bergantung pada satu negara adidaya tertentu.

“Sahabatku Presiden Prabowo, bahwa Brasil dan Indonesia akan sebesar yang kita inginkan. Semakin banyak kita perlu mendiskusikan kesamaan yang ada antara kedua negara kita agar kita dapat semakin memperkuat hubungan... sehingga kita semakin tidak bergantung pada satu negara saja,” tutup Presiden Lula, menegaskan visi keseimbangan dan saling menguntungkan sebagai landasan kemitraan masa depan (**)

Halaman:

Tags

Terkini