INSIBERNEWS - Pemerintah Provinsi Bengkulu resmi menetapkan status tanggap darurat pascagempa bermagnitudo 6,3 yang mengguncang wilayah itu pada Jumat (24/5). Gempa yang berpusat di laut tersebut sempat memicu kepanikan warga dan meninggalkan dampak kerusakan cukup luas di beberapa daerah.
Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga hari kedua setelah kejadian, setidaknya 200 rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Baca Juga: Kejagung Kecam Peristiwa Pembacokan Jaksa dan ASN di Sumut, Minta Polisi Segera Tangkap Pelaku
Selain rumah, sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan kantor layanan publik seperti kantor camat juga dilaporkan mengalami kerusakan fisik yang signifikan.
Status tanggap darurat ini akan diberlakukan hingga 29 Mei mendatang, sambil menunggu perkembangan proses penanganan dan pemulihan di lapangan. Pemerintah daerah bersama BNPB telah mengerahkan tim gabungan yang bekerja memberikan bantuan evakuasi, distribusi logistik, dan pendataan terhadap warga yang terdampak.
Baca Juga: Aktif Sebar Propaganda ISIS Lewat WhatsApp, Remaja 18 Tahun di Gowa Diciduk Densus 88
“Untuk sementara, warga yang rumahnya rusak berat sudah kami arahkan ke tempat penampungan sementara. Kami juga sudah mulai salurkan bantuan logistik seperti makanan, selimut, dan tenda,” kata salah satu petugas BPBD Bengkulu di lokasi pengungsian.
Pemerintah Provinsi Bengkulu juga tengah menyiapkan skema bantuan perbaikan rumah bagi warga yang terdampak, terutama untuk kategori rusak sedang dan berat. Skema ini direncanakan akan mengacu pada standar bantuan pascagempa yang pernah diterapkan di daerah lain, agar penyalurannya bisa berjalan cepat dan merata.
BNPB memastikan, proses pemulihan pascagempa akan terus dikawal dan dipastikan berjalan dengan baik. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, serta mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang terkait langkah mitigasi dan keselamatan.