INSIBERNEWS - Upaya untuk menghentikan konflik berkepanjangan di Jalur Gaza kembali menemui jalan buntu. Pemerintah Israel secara tegas menolak proposal gencatan senjata selama lima tahun yang diajukan dalam proses mediasi oleh Mesir dan Qatar.
Alasan utama penolakan ini, menurut sejumlah laporan media setempat, adalah kekhawatiran Israel bahwa jeda pertempuran jangka panjang hanya akan memberikan kesempatan bagi Hamas untuk memperkuat kekuatan militernya.
Usulan yang tengah diajukan dalam pembicaraan itu mencakup pembebasan seluruh sandera asal Israel yang masih ditahan di Gaza, sebagai imbalan atas penghentian agresi bersenjata jangka panjang.
Namun, sumber dari pemerintah Israel menyatakan bahwa ide semacam ini dinilai terlalu berisiko. Mereka khawatir Hamas akan menggunakan waktu tersebut untuk menyusun ulang strategi, merekrut pasukan baru, dan membangun kembali persenjataan yang rusak akibat perang.
Baca Juga: Karier Kim Soo Hyun Terancam Runtuh, Deretan Brand Ramai-Ramai Gugat 35 Miliar
"Tidak mungkin kami menyetujui gencatan senjata jangka panjang yang justru memberi waktu bagi Hamas untuk pulih dan kembali mengancam warga kami," ungkap salah satu pejabat Israel, dikutip dari The Times of Israel.
Istilah yang digunakan dalam kesepakatan itu adalah “hudna”, sebuah konsep dari bahasa Arab yang merujuk pada periode damai sementara sebelum kemungkinan perjanjian jangka panjang tercapai.
Baca Juga: Resmi Tinggalkan SM Entertainment, Sungmin Super Junior Siap Mulai Lembar Baru di Total Set
Sementara itu, dari pihak Hamas, diketahui bahwa mereka menolak untuk menyerahkan senjata selama pendudukan Israel atas wilayah Palestina masih berlangsung.
Hal ini menjadi kendala utama dalam pencapaian kesepakatan damai yang benar-benar tuntas. Hamas menilai gencatan senjata tanpa pembebasan penuh dari penjajahan hanyalah jeda ilusi.
Baca Juga: Isa Zega Dituntut 5 Tahun Penjara, Kecewa dengan Perubahan Pasal dan Tudingan Tak Adil
Situasi ini menunjukkan betapa rumit dan sensitifnya proses negosiasi perdamaian di wilayah tersebut. Ketidakpercayaan antara kedua pihak terus menjadi hambatan besar bagi upaya mediasi internasional.
Selama tidak ada jaminan bagi keamanan jangka panjang dan keadilan bagi kedua belah pihak, harapan akan terciptanya perdamaian yang nyata di Gaza tampaknya masih jauh dari kenyataan.