INSIBERNEWS - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan penghentian sementara operasi militer di Ukraina, yang akan berlangsung mulai pagi 8 Mei hingga 11 Mei.
Keputusan ini, menurut pernyataan resmi Kremlin, diambil sebagai bentuk "pertimbangan kemanusiaan" bertepatan dengan perayaan Hari Kemenangan, momen bersejarah untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia Kedua di Eropa.
Baca Juga: Kim Jong-un Tegaskan Tentara Korea Utara di Rusia Adalah Pahlawan Sejati
Dalam keterangan tersebut, Kremlin menekankan bahwa gencatan senjata ini diharapkan juga diikuti oleh pihak Ukraina.
Rusia menyatakan bahwa mereka siap menahan diri, namun memperingatkan bahwa jika terjadi pelanggaran dari pasukan Ukraina, militer Rusia akan merespons dengan "tindakan yang tegas dan efektif."
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina mengenai ajakan gencatan senjata tersebut.
Baca Juga: Suparta, Terpidana Kasus Korupsi PT Timah Meninggal Dunia di RSUD Cibinong
Selain menawarkan jeda pertempuran, Moskow juga kembali menyuarakan kesiapan mereka untuk melakukan perundingan damai tanpa syarat.
Rusia menegaskan keinginannya untuk membahas solusi jangka panjang atas krisis Ukraina, dan membuka pintu untuk dialog yang konstruktif dengan komunitas internasional guna mencari jalan keluar damai.
Gencatan senjata ini dinilai banyak pihak sebagai upaya Rusia untuk menunjukkan sikap diplomatis di tengah tekanan internasional yang terus meningkat.
Namun, sebagian analis juga memperkirakan langkah ini bisa menjadi strategi sementara, mengingat medan perang di beberapa wilayah Ukraina saat ini masih dalam kondisi panas dan sulit diprediksi.
Baca Juga: Kelola Aset Rp14.000 Triliun, Danantara Resmi Pegang Kendali 844 BUMN
Perkembangan ini terjadi di tengah situasi yang semakin kompleks, dengan kedua belah pihak sama-sama menghadapi kelelahan akibat perang berkepanjangan.