Konten SPPG Cilacap Dinilai Tone Deaf, Ustadz Hilmi: Jangan Bandingkan MBG dengan Krisis Palestina!

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Kamis, 19 Maret 2026 | 12:22 WIB
Ustaz Hilmi Firdausi menanggapi video konten viral dari SPPG Sidanegara 2 Cilacap.  (Instagram/hilmi.firdausi)
Ustaz Hilmi Firdausi menanggapi video konten viral dari SPPG Sidanegara 2 Cilacap. (Instagram/hilmi.firdausi)

INSIBERNEWS - Sebuah video dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidanegara 2 di Cilacap, Jawa Tengah, mendadak viral dan menuai sorotan luas di media sosial.

Konten tersebut memicu perdebatan setelah dianggap tidak sensitif dalam menyampaikan pesan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Video yang diunggah pada Selasa, 17 Maret 2026 itu awalnya menampilkan aktivitas harian petugas SPPG dalam menyiapkan menu untuk program MBG.

Baca Juga: Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Dapat Rp1 Miliar!

Namun, kontroversi muncul ketika video tersebut membandingkan kondisi layanan makanan di Indonesia dengan situasi krisis kemanusiaan yang dialami anak-anak di Palestina.

Perbandingan ini langsung memicu kemarahan warganet. Banyak yang menilai konten tersebut tidak tepat karena menggunakan penderitaan pihak lain sebagai bahan narasi untuk menyampaikan pesan rasa syukur.

Salah satu tokoh yang turut menanggapi video tersebut adalah Hilmi Firdausi. Melalui media sosialnya, ia mengkritik keras konten tersebut dan menyebutnya sebagai “tone deaf” atau tidak peka terhadap kondisi sosial.

Baca Juga: Berbagi Keberkahan, ANTAM Laksanakan Safari Ramadan 1447H di Wilayah Operasi

Dalam unggahannya, ia menegaskan bahwa situasi Indonesia tidak bisa disamakan dengan kondisi di Palestina yang tengah dilanda krisis. Ia juga mengingatkan agar penderitaan masyarakat di wilayah konflik tidak dijadikan alat untuk membangun citra program tertentu.

Selain itu, ia menyampaikan dukungan jika program serupa benar-benar diwujudkan untuk membantu masyarakat di wilayah konflik, bukan sekadar dijadikan bahan perbandingan dalam konten.

Lebih lanjut, Hilmi menyarankan agar pihak penyelenggara program MBG tetap fokus pada tujuan utama, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak di Indonesia. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sensitivitas publik, terutama ketika program tersebut menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar.

Baca Juga: Arus Mudik Membludak di Gilimanuk: Antrean 35 Km, Pemudik Kelelahan hingga Pingsan

Menurutnya, kritik dari masyarakat merupakan hal wajar sebagai bentuk kepedulian terhadap penggunaan dana publik.

Dalam video tersebut, terdapat narasi yang menggambarkan keluhan masyarakat terhadap program MBG, seperti kritik terhadap rasa makanan hingga kualitas menu. Narasi tersebut kemudian dikaitkan dengan visual kondisi anak-anak di Palestina yang mengalami kekurangan pangan dan kehilangan tempat tinggal.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X