Soroti Kematian Bocah di NTT, Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, KPAI Sebut Situasi Sudah Darurat

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Kamis, 5 Februari 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi, Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, KPAI Sebut Situasi Sudah Darurat (Istimewa)
Ilustrasi, Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, KPAI Sebut Situasi Sudah Darurat (Istimewa)

INSIBERNEWS - Kasus bunuh diri anak di Indonesia kembali menyita perhatian publik. Seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBS di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan berat akibat keterbatasan ekonomi, termasuk ketidakmampuan membeli buku dan alat tulis untuk keperluan sekolah.

Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang kasus bunuh diri anak usia sekolah di Indonesia dan memperkuat sinyal bahwa persoalan kesehatan mental anak telah berada pada tahap mengkhawatirkan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut Indonesia saat ini termasuk salah satu negara dengan angka bunuh diri anak tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut dinilai sebagai peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan.

Baca Juga: Mensesneg Minta Kepala Desa Untuk Aktif Pantau Kelompok Rentan

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini menyampaikan duka cita dan rasa prihatin yang mendalam. Menurutnya anak memiliki hak dasar atas pendidikan, termasuk fasilitas penunjang belajar, ketika hak ini tidak terpenuhi, dampaknya bisa sangat berat bagi kondisi psikologis anak.

Faktor Penyebab Bunuh Diri Anak Bersifat Kompleks
Menurut KPAI, bunuh diri pada anak jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Data yang dihimpun menunjukkan adanya kombinasi berbagai tekanan yang saling berkaitan.

Perundungan atau bullying menjadi faktor paling dominan, disusul oleh pola pengasuhan yang kurang tepat, tekanan ekonomi keluarga, kecanduan gim daring, hingga persoalan hubungan sosial dan emosional anak.

Baca Juga: Dakwaan Rp2,1 Triliun, Nadiem Makarim Tegaskan Tak Campur Tangan Soal Harga Chromebook via E-Katalog

Terkait kasus di NTT, KPAI menegaskan bahwa tragedi tersebut tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dampak kemiskinan.

“Memang ada persoalan ekonomi, tetapi kami juga melihat potensi masalah pengasuhan. Orang tua tidak selalu berada di dekat anak. Selain itu, perlu ditelusuri apakah anak mengalami perundungan di lingkungan sekolah karena keterbatasan perlengkapan belajar,” jelas Diyah.

KPAI Dorong Pengusutan Menyeluruh oleh Aparat
KPAI mendorong pihak kepolisian untuk mengusut kasus kematian YBS secara menyeluruh dan profesional. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan penyebab kematian sekaligus mencegah munculnya stigma negatif terhadap korban dan keluarganya.

Baca Juga: Waspada Buah Rusak dan Terbuka Bisa Picu Virus Nipah, Ini Imbauan Dinkes DKI

“Anak yang telah meninggal tetap memiliki hak atas kejelasan penyebab kematiannya. Proses hukum yang objektif sangat dibutuhkan,” tegas Diyah.

Ia juga mengingatkan bahwa kasus serupa bukan pertama kali terjadi. Pada tahun 2023, seorang anak di Kebumen, Jawa Tengah, juga mengakhiri hidupnya setelah permintaan uang jajan tidak dipenuhi.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X