INSIBERNEWS - Serangan militer Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Sabtu, 31 Januari 2026, dan menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina. Insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025 lalu.
Laporan dari sejumlah rumah sakit di Gaza menyebutkan, serangan terjadi di beberapa titik di wilayah utara dan selatan. Sasaran serangan mencakup sebuah bangunan apartemen di Kota Gaza serta area kamp tenda pengungsi di Khan Younis, Gaza selatan.
Baca Juga: CEO One Global Capital Lapor Polisi: Dampak Pemberitaan Disebut Ganggu Investor Global
Di Kota Gaza, serangan menghantam apartemen yang dihuni satu keluarga. Rumah Sakit Shifa melaporkan korban tewas termasuk anak-anak dan anggota keluarga lintas generasi yang berada di dalam bangunan saat serangan terjadi.
“Serangan di Gaza menewaskan tiga anak, bibi mereka, dan neneknya,” kata pihak Rumah Sakit Shifa.
“Sang ibu berhasil selamat dari serangan tersebut.”
Sementara itu, Rumah Sakit Nasser di Khan Younis melaporkan serangan lain yang menghantam kamp tenda pengungsi dan memicu kebakaran hebat. Api dengan cepat melalap tenda-tenda darurat yang dihuni keluarga pengungsi.
Baca Juga: Tragis! Pabrik Tahu di Malang Meledak, 1 Pekerja Tewas
“Tujuh orang tewas, termasuk seorang ayah, tiga anaknya, dan tiga cucunya,” ujar seorang pejabat Rumah Sakit Nasser.
“Korban sebagian besar merupakan warga sipil yang tinggal di tenda sementara.”
Serangan terbaru ini menambah daftar panjang korban sipil sejak konflik berkepanjangan kembali memanas. Organisasi kemanusiaan menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya korban anak-anak dan perempuan di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil.
Baca Juga: 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair Diboyong Pertamina ke Tanah Air
Insiden tersebut terjadi hanya sehari sebelum penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir dijadwalkan dibuka kembali secara terbatas. Pembukaan Rafah sebelumnya diharapkan menjadi titik penting dalam fase lanjutan gencatan senjata.
Pembukaan jalur Rafah merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Namun, serangan terbaru ini memunculkan keraguan atas komitmen para pihak untuk menjaga deeskalasi dan melindungi warga sipil.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Ambles Hari Ini, Momen Serok atau Tunggu Lebih Murah?
Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem, Jakarta Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca
BBCA Terkoreksi Dalam Sepekan, Investor Ritel Wajib Waspada tapi Jangan Panik
Banjir Datang Lagi, Emak-emak Bekasi Ini Curhat Pedas tapi Jujur, Warganet Ikut Merasa
Warga Jabar Wajib Siaga! BMKG Prediksi Hujan Dominan, Garut-Tasik Berpotensi Petir
Tragis! Pabrik Tahu di Malang Meledak, 1 Pekerja Tewas
Disebut Lebih Mematikan dari Covid-19, Apa Itu Virus Nipah yang Kembali Muncul di India?
CEO One Global Capital Lapor Polisi: Dampak Pemberitaan Disebut Ganggu Investor Global
Tiket KA H-3 Lebaran 2026 Mulai Dijual, Momentum Libur Panjang Jadi Incaran Pemudik
Aturan Bisnis Harus Sejalan HAM, Kementerian HAM Siapkan Perpres yang Mengikat 2028