INSIBERNEWS - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan proses pengunduhan black box pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan pada 17 Januari 2026 telah berhasil dilakukan.
Perangkat penting tersebut menjadi kunci utama untuk mengungkap penyebab insiden penerbangan yang menyita perhatian publik.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, dua komponen black box yakni cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR) sudah berhasil diekstraksi datanya dan kini masuk tahap analisis lanjutan.
Baca Juga: Diduga Emosi saat Ditegur, Pengemudi Mobil Ludahi Pemotor di Bekasi dan Bikin Warganet Murka
“Saat ini kedua black boxes, yaitu CVR yang berisi rekaman suara dan FDR yang memuat data penerbangan, telah berhasil diunduh,” ujar Soerjanto kepada jurnalis, Jumat, 30 Januari 2026.
Soerjanto menjelaskan, FDR menyimpan berbagai parameter penting penerbangan, mulai dari kecepatan pesawat, ketinggian, arah, hingga posisi dan pergerakan pesawat sebelum kecelakaan terjadi. Data ini akan menjadi dasar untuk merekonstruksi jalannya penerbangan secara teknis.
Sementara itu, CVR merekam percakapan dan suara di dalam pesawat yang terbagi dalam empat saluran atau channel. Rekaman ini dinilai krusial untuk mengetahui kondisi awak pesawat serta situasi di dalam kabin menjelang insiden.
Baca Juga: Kajian PVMBG Ungkap Penyebab Longsor Besar di Cisarua Bandung Barat, Ini Penjelasannya
“Channel satu berisi komunikasi antara kapten dan petugas pengatur lalu lintas udara atau ATC,” jelas Soerjanto.
“Channel dua merekam komunikasi kopilot dengan ATC, channel tiga berisi suara di dalam kokpit, dan channel empat merekam komunikasi antara kokpit dan kabin penumpang,” lanjutnya.
Meski data telah berhasil diunduh, KNKT belum dapat membeberkan hasil sementara dari rekaman tersebut. Menurut Soerjanto, seluruh data masih harus melalui proses validasi dan sinkronisasi agar hasil analisis benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Menkeu Nilai Mundurnya Dirut BEI Langkah Bertanggung Jawab di Tengah Guncangan IHSG
Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga pekan. KNKT juga akan melibatkan sejumlah ahli penerbangan untuk mencocokkan data CVR dan FDR dengan temuan lapangan, termasuk kondisi bangkai pesawat serta faktor cuaca saat kejadian.
KNKT menegaskan bahwa penyelidikan ini difokuskan pada upaya pencegahan agar kecelakaan serupa tidak terulang di masa depan. Hasil akhir investigasi nantinya akan dituangkan dalam laporan resmi beserta rekomendasi keselamatan penerbangan.
Artikel Terkait
Denada Akui Ressa Anak Kandung, Bantah Tuduhan Penelantaran di Sidang Banyuwangi
Jangan Kaget! Jamur Enoki Ternyata Susah Dicerna, Ini Penjelasannya
Ryeo Un Kepergok di Kota Tua, Syuting Film Netflix Bareng Lisa BLACKPINK di Jakarta
IHSG Terjun Bebas, Dirut BEI Iman Rachman Pilih Mundur demi Jaga Kepercayaan Pasar
Menkeu Nilai Mundurnya Dirut BEI Langkah Bertanggung Jawab di Tengah Guncangan IHSG
Kajian PVMBG Ungkap Penyebab Longsor Besar di Cisarua Bandung Barat, Ini Penjelasannya
KPK Panggil Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2023–2024
Sempat Picu Kepanikan, Sirine Banjir di Bekasi Kini Diubah Jadi Pesan Waspada
Diduga Emosi saat Ditegur, Pengemudi Mobil Ludahi Pemotor di Bekasi dan Bikin Warganet Murka
Dua Bulan Pascabanjir Aceh Timur, Anak-anak di Pante Bidari Masih Belum Kembali Mengaji