INSIBERNEWS - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa kesiapsiagaan nasional merupakan keharusan mutlak di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Pemerintah, kata dia, tidak boleh lengah menghadapi berbagai bentuk ancaman, baik yang bersifat konvensional maupun nonkonvensional.
Pernyataan tersebut disampaikan Sjafrie dalam sebuah forum strategis pertahanan nasional.
Ia menekankan bahwa tugas utama sektor pertahanan adalah menjaga kedaulatan negara dan keselamatan bangsa, termasuk menghadapi kemungkinan konflik yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Baca Juga: Jabatan Desa Diperdagangkan, KPK Temukan Rp2,6 Miliar dalam Karung di Pati
“Sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan negara, kita harus siap melakukan berbagai langkah. Bahkan kita siap menghadapi perang yang berlarut demi mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan NKRI,” tegas Sjafrie.
Menurutnya, kesiapan tersebut bukan dimaknai sebagai sikap agresif, melainkan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat dan wilayahnya.
Pemerintah menegaskan bahwa arah kebijakan pertahanan Indonesia tetap bersifat defensif dan tidak bertujuan memicu eskalasi konflik, baik di tingkat regional maupun global.
Baca Juga: Prabowo Tancap Gas Atasi Krisis Dokter, Siapkan 10 Kampus Kedokteran dan STEM Berstandar Inggris
Sjafrie menjelaskan, kekuatan pertahanan nasional dibangun berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan perlindungan bangsa sebagai tujuan utama negara. Dalam kerangka itu, konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) tetap menjadi fondasi utama.
Konsep tersebut menekankan pentingnya sinergi antara TNI dan seluruh elemen masyarakat. Pertahanan negara, kata Sjafrie, tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada ketahanan nasional yang menyeluruh, termasuk aspek sosial, ekonomi, dan teknologi.
Baca Juga: Suami Wamen Stella Christie Alami Kecelakaan di AS, Istana Minta KBRI Beri Pendampingan Penuh
“Pertahanan yang kuat lahir dari kebersamaan. Ketika TNI dan rakyat memiliki kesadaran yang sama untuk menjaga negara, di situlah kekuatan Indonesia sebenarnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan peningkatan kualitas sumber daya manusia pertahanan. Namun, semua itu harus berjalan seiring dengan diplomasi aktif agar stabilitas kawasan tetap terjaga.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah menilai kesiapsiagaan adalah langkah preventif, bukan provokatif. Indonesia, kata Sjafrie, akan terus berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, sambil memastikan pertahanan nasional berada dalam kondisi siap menghadapi segala kemungkinan.***
Artikel Terkait
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Nakal, Negara Tegaskan Tak Ada Toleransi Rusak Hutan
Emas Pecah Rekor USD4.800, Saham Tambang Bergerak Tak Seirama di Bursa
Wali Kota Maidi Bantah Keras Tuduhan KPK, Klaim Tak Tahu Asal Uang Rp550 Juta
Teridentifikasi! Korban Kedua Pesawat ATR 42-500, Pramugari Florencia Lolita
Konflik Guru dan Siswa di SMKN Tanjabtim, Akademisi Nilai Ada Krisis Adab di Sekolah
Suami Wamen Stella Christie Alami Kecelakaan di AS, Istana Minta KBRI Beri Pendampingan Penuh
Vierdha Perempuan Yang Merekam Ricky Harun Karaoke, Ungkap Awal Mula Pertemuannya Dengan Suami Herfiza
BRI Dinobatkan The Banker Sebagai Bank of The Year 2025, Arah Baru Transformasi Diapresiasi Global
Prabowo Tancap Gas Atasi Krisis Dokter, Siapkan 10 Kampus Kedokteran dan STEM Berstandar Inggris
Jabatan Desa Diperdagangkan, KPK Temukan Rp2,6 Miliar dalam Karung di Pati