Konflik Guru dan Siswa di SMKN Tanjabtim, Akademisi Nilai Ada Krisis Adab di Sekolah

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 21 Januari 2026 | 13:41 WIB
Guru Besar UIN Soroti Adab Siswa dan Guru di Sekolah (Foto : istimewa)
Guru Besar UIN Soroti Adab Siswa dan Guru di Sekolah (Foto : istimewa)

INSIBERNEWS - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Mukhtar Latif, melontarkan kritik keras terhadap konflik antara guru dan siswa yang terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Ia menilai peristiwa tersebut mencerminkan persoalan yang jauh lebih dalam dari sekadar pelanggaran hukum.

Menurut Mukhtar, insiden itu menjadi gambaran nyata adanya krisis nilai budaya, karakter, dan etika akademik di lingkungan sekolah.

Dunia pendidikan, kata dia, seharusnya menjadi ruang pembentukan akhlak dan keadaban, bukan arena konflik yang berujung saling melaporkan ke aparat penegak hukum.

Baca Juga: Wali Kota Maidi Bantah Keras Tuduhan KPK, Klaim Tak Tahu Asal Uang Rp550 Juta

Dalam keterangannya di Jambi, Selasa (21/1/2026), Mukhtar menegaskan dirinya tidak berpihak pada salah satu pihak. Ia memandang baik guru maupun siswa sama-sama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah pendidikan.

“Kita tidak melihat siapa yang salah dalam kasus ini. Baik guru maupun murid sama-sama dianggap tidak menjunjung tinggi nilai karakter dan akhlak.”

Ia menyayangkan kecenderungan penyelesaian masalah di sekolah yang kini semakin sering dibawa ke ranah hukum. Menurutnya, praktik “saling lapor” justru memperlihatkan kegagalan institusi pendidikan dalam menyelesaikan konflik secara bijak dan mendidik.

Baca Juga: Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Nakal, Negara Tegaskan Tak Ada Toleransi Rusak Hutan

Mukhtar menilai sekolah seharusnya memiliki mekanisme internal yang kuat untuk menyelesaikan persoalan, melalui dialog, pembinaan, dan pendekatan edukatif. Ketika konflik langsung dibawa ke luar, nilai-nilai keadaban dan kekeluargaan di lingkungan pendidikan menjadi tergerus.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral bagi siswa. Di sisi lain, siswa pun dituntut menghormati otoritas dan etika yang berlaku dalam lingkungan sekolah.

“Kita sangat menyayangkan dan menyesalkan terjadinya konflik di sekolah, karena ini menunjukkan kegagalan bersama dalam menjaga nilai-nilai pendidikan.”

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Soal Kemitraan Ekonomi Indonesia-Inggris yang Strategis dan Menguntungkan

Mukhtar berharap kejadian ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi dunia pendidikan, khususnya di tingkat sekolah menengah. Ia mendorong adanya penguatan pendidikan karakter, etika komunikasi, serta peran aktif kepala sekolah dan orang tua.

Ia menegaskan, jika krisis nilai ini tidak segera dibenahi, maka konflik serupa berpotensi terus berulang. Pendidikan, kata dia, tidak boleh kehilangan ruhnya sebagai tempat membentuk manusia beradab dan berakhlak.***

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X