INSIBERNEWS - Harga emas dunia mencetak sejarah baru setelah melonjak menembus level psikologis USD4.800 per troy ons pada Rabu (21/1/2026). Lonjakan ini menjadi yang pertama kalinya sepanjang sejarah perdagangan emas global dan mencerminkan kuatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Kenaikan harga logam mulia tersebut dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari pelemahan mata uang utama, ketegangan geopolitik global, hingga ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral negara maju. Emas kembali menjadi primadona investor sebagai instrumen lindung nilai yang dianggap paling aman.
Baca Juga: Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Nakal, Negara Tegaskan Tak Ada Toleransi Rusak Hutan
Namun, euforia harga emas tidak sepenuhnya tercermin di lantai bursa. Saham-saham emiten tambang emas di Indonesia justru bergerak bervariasi, dipengaruhi aksi ambil untung setelah reli panjang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.48 WIB, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat menguat 1,87 persen ke level Rp3.270 per saham. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 0,73 persen ke Rp4.150 dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat tipis 0,50 persen ke Rp2.030 per saham.
Di sisi lain, tidak semua saham tambang mampu bertahan di zona hijau. Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) justru terkoreksi cukup dalam, anjlok 3,85 persen. Tekanan juga dialami PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang melemah 2,67 persen serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang turun dengan persentase serupa.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Soal Kemitraan Ekonomi Indonesia-Inggris yang Strategis dan Menguntungkan
Pelaku pasar menilai pergerakan yang tidak seragam ini wajar terjadi. Kenaikan harga emas yang terlalu cepat sering kali mendorong investor jangka pendek untuk merealisasikan keuntungan, terutama pada saham yang sudah naik signifikan sebelumnya.
“Secara fundamental, harga emas yang tinggi seharusnya menjadi sentimen positif bagi emiten tambang. Tapi dalam jangka pendek, pasar cenderung berhati-hati karena valuasi saham sudah cukup mahal,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Baca Juga: Perdana Menteri Inggris Apresiasi Kerja Sama Maritim RI dan Inggris yang Ciptakan Lapangan Kerja
Selain faktor teknikal, investor juga mencermati kinerja operasional masing-masing emiten, termasuk biaya produksi, cadangan emas, hingga strategi ekspansi. Perbedaan kinerja inilah yang membuat respons saham tambang terhadap lonjakan harga emas menjadi tidak seragam.
Ke depan, pergerakan saham tambang emas diperkirakan masih akan fluktuatif. Selama harga emas dunia bertahan di level tinggi, sektor ini tetap menarik, meski investor disarankan lebih selektif dan mempertimbangkan risiko koreksi jangka pendek.***
Artikel Terkait
Gubernur Aceh Disebut Nikah Lagi Dengan Perempuan Malaysia, Ternyata Mualem Nikahkan Putrinya
Alami Rem Blong, 3 Truk Muatan Sapi, Padi dan Pepaya Tabrakan di Jalinsum, 1 Orang Tewas
Trump Sentil Rusia! Fokus Perang Ukraina, Bukan Ributkan Greenland
Kata Umay Shahab Soal Prilly Latuconsina Mundur Dari Sinemaku Pictures
Smartwacth Co Pilot Peswat ATR 42-500 Sempat Ada Pergerakan Jalan, Basarnas Konfirmasi Hasil Invetigasi
Tanggapan Bijak Sule Soal Perseteruan Warisan Putri Almarhumah Mantan Istrinya Dengan Teddy Pardiyana
Perdana Menteri Inggris Apresiasi Kerja Sama Maritim RI dan Inggris yang Ciptakan Lapangan Kerja
Prabowo Tegaskan Soal Kemitraan Ekonomi Indonesia-Inggris yang Strategis dan Menguntungkan
Jule Sempat Bikin Medsos Geger Dengan Penampilan Baru dan Pengakuan KDRT, Ia Buka Suara Memilih Menjadi Diri Sendiri
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Nakal, Negara Tegaskan Tak Ada Toleransi Rusak Hutan