INSIBERNEWS - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap temuan serius sepanjang 2025 terkait paparan paham radikal pada anak-anak. Sebanyak 112 anak di 26 provinsi teridentifikasi mengalami proses radikalisasi melalui ruang digital, terutama lewat game online dan media sosial.
Kepala BNPT Komjen (Purn.) Eddy Hartono menjelaskan, paparan tersebut tidak terjadi secara instan. Anak-anak berinteraksi dengan konten bermuatan ekstremisme secara bertahap, mulai dari narasi kebencian, glorifikasi kekerasan, hingga propaganda terorisme yang dikemas dengan bahasa populer dan visual menarik.
Baca Juga: Kejar Target Dua Juta Rumah, Prabowo Siapkan Lembaga Khusus Percepatan Perumahan
“Mereka berinteraksi dengan konten radikal terorisme, mengalami kerentanan psikologis, dan sebagian menunjukkan kecenderungan menjadi lone actor tanpa pertemuan fisik,”kata Eddy dalam keterangan resminya.
Fenomena aktor tunggal atau lone actor menjadi perhatian serius BNPT karena proses radikalisasi berlangsung sepenuhnya di dunia maya. Anak-anak dapat terpengaruh tanpa harus bertemu langsung dengan jaringan teroris, sehingga sulit terdeteksi oleh lingkungan sekitar.
BNPT mencatat, rentang usia anak yang terpapar semakin mengkhawatirkan. Rata-rata usia berada di angka 13 tahun, dengan usia termuda 10 tahun dan tertua 18 tahun. Angka ini jauh lebih muda dibandingkan profil pelaku terorisme di Indonesia pada periode 2014–2019.
Baca Juga: Dari Spanyol ke Media Sosial, Tradisi Makan 12 Anggur di Bawah Meja Kembali Ramai Saat Tahun Baru
Sebagai perbandingan, pada periode tersebut rata-rata pelaku terorisme berada di rentang usia 28 hingga 35 tahun. Pergeseran usia ini menunjukkan perubahan pola rekrutmen dan penyebaran ideologi ekstrem yang kini menyasar kelompok usia rentan.
Menurut Eddy, kerentanan psikologis anak, rasa ingin tahu yang tinggi, serta minimnya literasi digital menjadi faktor utama. Game online dan media sosial kerap dimanfaatkan sebagai pintu masuk, dengan pendekatan persuasif yang sulit dikenali sebagai propaganda berbahaya.
BNPT menilai peran keluarga, sekolah, dan komunitas sangat krusial dalam mencegah paparan lanjutan. Pengawasan penggunaan gawai, dialog terbuka, serta penguatan nilai kebangsaan dan toleransi menjadi langkah awal yang perlu diperkuat.
Baca Juga: Banjir dan Longsor Aceh Lumpuhkan Listrik, PLN Sebut Kerusakan Lebih Berat dari Tsunami 2004
Selain itu, BNPT juga mendorong kolaborasi dengan platform digital untuk menekan peredaran konten ekstremisme. Upaya kontra-narasi dan edukasi literasi digital terus digencarkan agar ruang digital lebih aman bagi anak-anak.
BNPT menegaskan bahwa pencegahan radikalisme pada anak tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar generasi muda terlindungi dari ideologi kekerasan yang mengancam masa depan bangsa.***
Artikel Terkait
Buruh Siap Gelar Aksi Beruntun, UMSK 2026 Jadi Ujian Kepemimpinan Gubernur Jabar
Heboh! Bayi Ditinggal Sendirian di Rumah oleh Ayahnya Karena Kerja Shift Malam, Warga Balang Makassar Ikut Cari Solusi
Hadiah dan Hibah Impor Kini Lebih Mudah, Menkeu Terbitkan Aturan Baru Bebas Bea Masuk dan Cukai
Lebih dari 10 Juta Wajib Pajak Aktif di Coretax, DJP Dorong Percepatan Migrasi Digital
Bundaran HI Jadi Magnet Malam Tahun Baru, Pemprov DKI Tiadakan Parkir Demi Kelancaran Acara
Peta Damai Rusia-AS Terguncang, Putin Peringatkan Trump soal Serangan Drone Ukraina
Banjir dan Longsor Aceh Lumpuhkan Listrik, PLN Sebut Kerusakan Lebih Berat dari Tsunami 2004
Mulai 1 Januari 2026, Pupuk Subsidi Siap Mengalir ke Petani dan Pembudidaya I
Dari Spanyol ke Media Sosial, Tradisi Makan 12 Anggur di Bawah Meja Kembali Ramai Saat Tahun Baru
Kejar Target Dua Juta Rumah, Prabowo Siapkan Lembaga Khusus Percepatan Perumahan