INSIBERNEWS - CEO Tesla sekaligus pendiri SpaceX, Elon Musk, melontarkan kekhawatiran terhadap rencana China yang akan memberlakukan pembatasan ekspor perak mulai tahun depan.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor industri global yang selama ini bergantung pada pasokan perak.
Dalam pernyataannya, Musk mempertanyakan langkah Beijing yang akan mewajibkan izin pemerintah bagi perusahaan yang ingin mengekspor perak. Ia menilai kebijakan ini bukan sekadar isu perdagangan biasa, melainkan persoalan serius bagi rantai pasok industri dunia.
Baca Juga: Puluhan Desa Lenyap Akibat Bencana, Pemerintahan Desa di Aceh Paling Terpukul
"Ini bukan kabar baik. Perak dibutuhkan dalam banyak proses industri," tulis Musk melalui platform media sosial X miliknya.
Komentar tersebut dikutip oleh sejumlah media internasional, termasuk The Guardian, pada Senin (29/12/2025).
Musk dikenal vokal menanggapi kebijakan global yang berkaitan dengan energi, teknologi, dan bahan baku strategis, terutama yang berdampak langsung pada industri kendaraan listrik dan teknologi tinggi.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-42, Slank Rilis Single 'Republik Fufufafa', Angkat Potret Kekacauan Negeri
China sendiri telah mengumumkan bahwa pembatasan ekspor perak akan mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Aturan baru ini mengharuskan perusahaan domestik maupun asing untuk mengantongi izin khusus dari pemerintah sebelum mengekspor perak ke luar negeri.
Perak merupakan salah satu komoditas penting dalam berbagai sektor, mulai dari elektronik, panel surya, kendaraan listrik, hingga industri medis.
Dalam kendaraan listrik, perak digunakan pada komponen kelistrikan karena konduktivitasnya yang tinggi, sehingga ketersediaannya menjadi faktor krusial bagi produsen seperti Tesla.
Baca Juga: Pamer Pacar Baru, Momen Kebersamaan Nathalie Holscher dan Richard Refanov Bikin Netizen Iri
Sejumlah analis menilai kebijakan China ini dapat memicu kenaikan harga perak di pasar global. Sebagai salah satu produsen dan pemroses logam terbesar di dunia, langkah Beijing berpotensi mengganggu keseimbangan suplai dan permintaan internasional.
Di sisi lain, pemerintah China belum secara rinci menjelaskan alasan di balik kebijakan tersebut.
Artikel Terkait
Gerindra Dukung Pilkada Dipilih Lewat DPRD, Dinilai Lebih Hemat dan Minim Biaya Politik
Poster 'Wanted' Netanyahu Penuhi London, Aksi Simbolik Pro-Palestina Menguat
Danielle Resmi Dikeluarkan dari NewJeans, ADOR Putus Kontrak dan Siapkan Gugatan
Harry Styles Kembali Muncul Lewat 'Forever, Forever', Sinyal Comeback yang Bikin Fans Deg-degan
BBRI Tetapkan Cum Date Hari Ini, Beri Kado Awal Tahun Dividen Interim Rp20,6 Triliun untuk Pemegang Saham
Temukan Aksi Sabotase, KSAD Maruli Murka Baut Jembatan Bailey di Aceh Dicuri: Ada Orang Sebiadab Ini Ya
Pamer Pacar Baru, Momen Kebersamaan Nathalie Holscher dan Richard Refanov Bikin Netizen Iri
Legenda Prancis Brigitte Bardot Wafat di 91 Tahun, Ini Jejak Karier dan Warisannya
Rayakan HUT ke-42, Slank Rilis Single 'Republik Fufufafa', Angkat Potret Kekacauan Negeri
Puluhan Desa Lenyap Akibat Bencana, Pemerintahan Desa di Aceh Paling Terpukul