INSIBERNEWS - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera beberapa waktu lalu membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat, terutama dari sisi ekonomi.
Salah satu daerah yang merasakan dampak serius adalah Kabupaten Aceh Tengah, khususnya wilayah Takengon.
Putusnya akses jalan utama akibat longsor membuat distribusi bahan pokok terhambat. Kondisi ini menyebabkan ketersediaan sembako menipis dan harga kebutuhan sehari-hari melonjak tajam di sejumlah wilayah yang sempat terisolasi.
Baca Juga: ASDP Pastikan Arus Berangkat Natal 2025 Lancar, Lintasan Merak–Bakauheni Tetap Terkendali
Jalur Terputus, Warga Takengon Kesulitan Logistik
Akses jalan dari Takengon menuju Kabupaten Bener Meriah sempat tidak bisa dilalui kendaraan setelah diterjang banjir dan longsor. Akibatnya, warga Takengon kesulitan mendapatkan pasokan logistik dengan harga terjangkau.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian warga terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer menuju Kampung Kem di Bener Meriah. Jalur tersebut menjadi satu-satunya akses yang bisa dilewati meski harus menempuh medan berat.
Perbedaan Harga Sembako Sangat Jauh
Seorang warga Takengon mengungkapkan bahwa perbedaan harga bahan pokok antara Takengon dan Bener Meriah sangat signifikan. Kondisi inilah yang mendorong warga memilih berbelanja ke Bener Meriah meski harus berjalan kaki berjam-jam.
Baca Juga: Viral Isu Inisial S, Safa Marwah Tegaskan Tak Ada Hubungan dengan Ridwan Kamil
Menurutnya, harga beras ukuran 15 kilogram di Kampung Kem masih berada di kisaran Rp250.000 per sak, sementara di Takengon sudah mencapai Rp400.000. Minyak goreng satu liter dijual sekitar Rp25.000 di Kem, namun di Takengon melonjak hingga Rp35.000.
Tak hanya itu, harga telur ayam di Kampung Kem berkisar Rp65.000 per papan, sedangkan di Takengon sudah menembus Rp120.000. Kenaikan harga tersebut bahkan ada yang mencapai dua kali lipat.
Jalan Kaki Hingga 5 Jam Setiap Hari
Perjalanan menuju Kampung Kem bukanlah hal mudah. Warga harus melewati jalan licin dan berlumpur akibat bekas longsoran tanah. Meski berisiko, mereka tetap melakukannya demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Dalam satu kali perjalanan pulang-pergi, warga bisa menghabiskan waktu hingga lima jam. Perjalanan berangkat memakan waktu sekitar dua jam, sedangkan perjalanan pulang lebih lama karena harus membawa barang belanjaan.
Warga Harap Akses Jalan Segera Pulih
Selain membeli kebutuhan pokok, beberapa warga juga memanfaatkan perjalanan tersebut untuk membawa hasil pertanian, seperti buah nanas, yang kemudian dijual atau ditawarkan kepada orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.
Artikel Terkait
Tak Tinggalkan Hewan Peliharaan, Keluarga Korban Banjir Aceh Tamiang Ini Tuai Pujian
Jalan Licin Bersalju Picu Tabrakan Beruntun di Jepang, Dua Tewas dan Puluhan Luka
Meski Minim Penerangan, Upaya Pembersihan Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang Terus Dilakukan
Viral Isu Inisial S, Safa Marwah Tegaskan Tak Ada Hubungan dengan Ridwan Kamil
Tindak Tegas Aksi Bullying, Universitas Nasional Jeonbuk Gugurkan 18 Pendaftar karena Riwayat Kekerasan Sekolah