Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Didongkrak Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Kamis, 27 November 2025 | 12:16 WIB
Ilustrasi Dollar (Photo : Reuters/Dado Ruvic)
Ilustrasi Dollar (Photo : Reuters/Dado Ruvic)

INSIBERNEWS - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Kamis pagi dengan nada positif. Mata uang Garuda menguat 30 poin atau sekitar 0,18 persen ke level Rp16.634 per dolar Amerika Serikat (AS), naik dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.664 per dolar AS. Penguatan ini membuat suasana pasar valas domestik sedikit lebih optimistis setelah beberapa hari terakhir rupiah bergerak terbatas.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut sentimen global menjadi motor utama penguatan rupiah hari ini.

Menurutnya, semakin kuatnya keyakinan pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025 menjadi kabar baik bagi aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Ukraina Tegaskan Tak Akan Ubah Konstitusi demi Kesepakatan Damai dengan Rusia

“Sentimen yang membaik didorong oleh meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada Desember 2025,” ujar Josua. Ia menekankan bahwa pasar kini lebih percaya diri karena pernyataan sejumlah pejabat The Fed baru-baru ini bernada dovish.

Mengutip laporan Anadolu, CME FedWatch menunjukkan bahwa investor memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga mencapai 85 persen bulan depan. Probabilitas yang besar ini membuat pelaku pasar semakin agresif masuk ke aset berisiko, sembari mengurangi eksposur pada dolar AS.

Banyak analis menilai penurunan suku bunga yang mungkin dilakukan The Fed sebesar 25 basis points (bps). Ekspektasi ini muncul setelah rangkaian data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan, sehingga membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter tanpa menimbulkan kekhawatiran inflasi berlebihan.

Baca Juga: Menag Minta Konflik Internal PBNU Tak Membesar: 'Semoga Ada Jalan Damai untuk Semua Pihak'

Data penjualan ritel AS menjadi salah satu indikator yang memberi sinyal itu. Pada September 2025, retail sales hanya tumbuh 0,2 persen secara bulanan, jauh di bawah proyeksi 0,4 persen. Laju konsumsi yang melambat memberi isyarat bahwa tekanan daya beli masyarakat mulai muncul.

Dari sisi harga produsen, Producer Price Index (PPI) tercatat naik moderat 0,3 persen secara bulanan—angka yang masih dalam jalur landai dan tidak mengindikasikan lonjakan inflasi dalam waktu dekat.

Di saat yang sama, kondisi pasar tenaga kerja juga melemah, terlihat dari penurunan rata-rata tenaga kerja sebesar 13,5 ribu orang dalam laporan Automatic Data Processing (ADP).

Baca Juga: Gelombang PHK di Singapura Sepanjang 2025 Bikin Cemas, Sektor Bergaji Tinggi Paling Terpukul

Kombinasi data tersebut membuat banyak ekonom percaya bahwa The Fed memiliki ruang cukup untuk menurunkan bunga demi menjaga momentum ekonomi. Pelemahan data AS berarti dolar AS kehilangan sebagian kekuatannya, dan hal ini cenderung menjadi angin segar bagi rupiah.

Meski demikian, sejumlah analis dalam negeri tetap mengingatkan bahwa penguatan rupiah hari ini mungkin masih bersifat terbatas. Ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga pergerakan harga komoditas, masih dapat menekan pasar ke depan.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X