INSIBERNEWS - Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM memastikan sejumlah operator SPBU swasta resmi bergabung dalam skema pembelian BBM impor melalui PT Pertamina Patra Niaga. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga ketersediaan pasokan hingga tutup tahun 2025, terutama di tengah tingginya kebutuhan nasional.
Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas, mengatakan beberapa perusahaan telah mengunci komitmen pembelian sejak awal November. BP AKR menjadi yang paling dulu mengeksekusi dengan dua kargo yang sudah tiba di Indonesia dan satu kargo tambahan yang sedang dalam perjalanan.
“BP AKR sudah menerima dua kargo dan satu lagi on the way,” ujar Laode.
Sementara itu, Vivo dan Shell dipastikan telah menandatangani kontrak pembelian BBM dengan Pertamina Patra Niaga. Kedua operator tersebut disebut sudah menyesuaikan kebutuhan pasokan mereka hingga akhir tahun depan agar tidak terjadi kekosongan stok di lapangan.
“Vivo dan Shell sudah locked kontraknya, tinggal menunggu tahapan pengiriman dan distribusi,” tutur Laode.
Berbeda dari tiga operator tersebut, Exxon memilih untuk tidak mengambil BBM impor melalui Pertamina. Menurut Laode, perusahaan itu menilai stok yang dimilikinya masih cukup stabil hingga pergantian tahun sehingga belum memerlukan tambahan pasokan eksternal.
Di sisi lain, pengiriman kargo BBM untuk Shell disebut sudah memasuki tahap akhir. Laode menjelaskan bahwa kargo tersebut saat ini sedang dalam proses pengisian sebelum diberangkatkan ke Indonesia.
Ia belum merinci volume atau jenis produk yang dibawa, namun memastikan jumlahnya cukup untuk mengamankan kebutuhan sepanjang 2025.
“Shell sedang final loading, setelah itu langsung berangkat ke Indonesia,” jelasnya.
Jika tidak ada hambatan, kargo milik Shell diproyeksikan tiba pada akhir bulan ini. Setelah masuk, BBM tersebut akan langsung masuk proses penyaluran agar bisa segera beredar di pasar sebelum memasuki kuartal pertama tahun depan.
Dengan mulai bergeraknya pasokan BBM impor melalui Pertamina Patra Niaga, pemerintah berharap tidak akan ada gejolak pasokan di SPBU swasta. Langkah ini juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan energi bagi konsumen hingga tahun depan. ***
Artikel Terkait
Tarif Listrik Tetap, Pemerintah Pastikan Tidak Ada Kenaikan hingga Akhir November
Mahfud MD Soroti Arah Demokrasi RI: Prosedur Semakin Ramai, Substansinya Makin Hilang?
Ogah Legalkan Thrifting, Mendag Soroti Kontroversi Balpress Ilegal: Dilarang Bukan karena Tak Bayar Pajak
Tegas! Mentan: Beras Sabang 250 Ton Ilegal Tanpa Izin, Ancam Copot Pejabat Tak Patuh Presiden
MUI Desak Pemerintah dan DPR untuk Evaluasi Aturan Lewat Fatwa Terbaru
PRESIDEN DIUNDANG! Reuni 212 'Gugat' Revolusi Akhlak dan Bawa Isu Palestina ke Monas
Redenominasi Ramai Lagi Dibicarakan, Ekonom Ingatkan Risiko Tersembunyi dan Pertanyakan Keuntungannya
Nenek Alvaro Curiga Ada yang Ditutup-Tutupi: Jejak Janggal Keluarga Ayah Tiri dalam Kasus Kematian Cucunya
Kapolri Janji Bereskan Layanan Publik: Akui Respons Polisi Kalah Cepat dari Damkar dan Siapkan Sistem Pengaduan Baru
Ekonom Anthony Budiawan Dukung Larangan Impor Baju Bekas, Peringatkan Ancaman Industri Lokal dan Rendahnya Upah Masyarakat