Nanik S. Deyang sebelumnya menyoroti bahwa BGN "tidak boleh kalah cepat dari hoaks" di media sosial.
"Saat ini banyak konten negatif karena respons yang diberikan oleh pelaksana daerah pun masih lemah. Setiap Kareg dan Korwil harus menjadi garda terdepan dalam penyebaran informasi akurat dan edukatif kepada publik," ujar Nanik pada Senin lalu.
Nanik berharap seluruh pelaksana tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga mampu mengemas pesan gizi menjadi narasi yang menggerakkan dan membangun optimisme publik.
Konten positif itu, menurutnya, adalah 'apresiasi pribadi' yang kemudian ia sebutkan sebagai insentif Rp5 juta.
Komitmen BGN: Transparansi dan Pertanggungjawaban
Terlepas dari candaan yang sempat menimbulkan riak, BGN memastikan bahwa transparansi adalah harga mati.
Komunikasi publik dalam pelaksanaan MBG wajib didukung dan dipertanggungjawabkan.
Untuk memperkuat hal ini, BGN telah melakukan pelatihan khusus pembuatan konten informasi yang kredibel bagi Kareg dan Korwil.
"Kami mengapresiasi semangat para Kepala SPPG dalam menyebarkan informasi positif tentang MBG dan BGN akan terus memastikan agar seluruh pesan publik berjalan sesuai koridor resmi dan dapat dipertanggungjawabkan," tutup Khairul Hidayati.
Dengan adanya klarifikasi ini, BGN berharap fokus publik kembali tertuju pada substansi dan manfaat Program Makan Bergizi Gratis, seraya mendorong pelaksana daerah untuk lebih kreatif dan berani tampil di media sosial, bukan karena insentif, melainkan karena komitmen pada pelayanan publik (**)
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tanggapi Pernyataan Jokowi Soal Polemik Utang Whoosh, Begini Katanya!
Purbaya Yudhi Sadewa Tanggapi Sulitnya Akses Pendanaan Koperasi Desa: 'Itu Ranah Perbankan, Bukan Pemerintah!'
Suporter Desak Erick Thohir Mundur, Nilai PSSI Gagal dan Tak Punya Arah yang Jelas
Andre Rosiade Desak PSSI Kembalikan Shin Tae-yong, Singgung Soal Dana APBN dan Efisiensi Federasi