Waduh! Kang Dedi Sidak Perusahaan 'Aqua', Sumbernya Ternyata dari Pengeboran Air Tanah Artesis

Photo Author
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 09:32 WIB
Pabrik Air Minum dalam Kemasan - Aqua (Foto : Dok. Danone Indonesia)
Pabrik Air Minum dalam Kemasan - Aqua (Foto : Dok. Danone Indonesia)

INSIBERNEWS - Sidak mendadak yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada 21 Oktober 2025 menguak fakta yang membuat banyak orang tercengang.

Dalam kunjungannya ke salah satu pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) ternama, Dedi menemukan bahwa air yang selama ini diklaim berasal dari mata air pegunungan ternyata diambil dari pengeboran artesis yang menembus hingga lebih dari 100 meter di bawah tanah.

Baca Juga: JANGAN KAGET! Harga Pupuk Subsidi Dipangkas Habis 20 Persen, Petani Se-Indonesia Wajib Tahu!

Temuan ini sontak memunculkan pertanyaan besar tentang keaslian dan keberlanjutan sumber air yang digunakan oleh perusahaan tersebut.

Pasalnya, air tanah dalam yang disedot secara masif bukan hanya mengancam ketersediaan air bagi masyarakat sekitar, tapi juga mempercepat kerusakan ekosistem bawah tanah.

Berdasarkan data yang dihimpun dari instansi lingkungan daerah, perusahaan Danone-AQUA tercatat telah menyedot 15.737,79 megaliter air tanah selama tahun 2023. Angka itu setara dengan sekitar 43 ribu meter kubik per hari — jumlah yang luar biasa besar untuk satu merek air kemasan.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegas Larang Impor Balpres, Pelaku Akan Didenda dan Masuk Daftar Hitam

Sementara itu, para ahli mencatat penurunan muka air tanah di sejumlah wilayah Jawa Barat mencapai 1 hingga 3 meter setiap tahunnya. Bahkan, di beberapa titik dekat kawasan industri air minum, permukaan tanah turun hingga 23 sentimeter akibat penyedotan air tanah yang berlebihan.

Fenomena ini membuat banyak lahan pertanian menjadi kering dan mengganggu sumber air warga yang bergantung pada sumur.

Baca Juga: Waspada! 5 Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Bisa Bikin Asma Kambuh

Warga di sekitar lokasi pabrik mulai merasakan dampak nyata. Sumur-sumur yang dulu tak pernah kering kini mulai menipis airnya. Beberapa petani mengeluhkan sawah mereka tak lagi bisa diairi secara maksimal, bahkan ada yang gagal panen karena pasokan air yang semakin terbatas.

“Dulu air sumur kami melimpah, tapi sekarang makin susah. Harus nunggu lama baru bisa naik,” ujar Rudi, salah satu warga di Subang yang tinggal tak jauh dari pabrik AMDK tersebut.

Baca Juga: Soal Jual-Beli Jabatan Kata Menkeu Purbaya, Bupati Bekasi Tegas Bantah: Proses Seleksi Didampingi KPK

Dedi Mulyadi pun menyoroti hal ini dengan tegas. Ia menyebut eksploitasi air tanah tanpa pengawasan bisa menjadi bom waktu bagi keberlanjutan lingkungan.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X