XL Axiata Tekor Rp1,22 Triliun di Semester I, Pendapatan Naik tapi Beban Membengkak

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 19:23 WIB
XL Axiata Tekor Rp1,22 Triliun di Semester I (foto: Dok/XL AXIATA)
XL Axiata Tekor Rp1,22 Triliun di Semester I (foto: Dok/XL AXIATA)

INSIBERNEWS - PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) harus menghadapi kenyataan pahit pada paruh pertama tahun 2025. Perusahaan telekomunikasi ini membukukan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,22 triliun, berbanding terbalik dengan capaian di periode yang sama tahun lalu ketika mereka masih meraih laba Rp1,02 triliun.

Baca Juga: Danantara Dorong Talenta Eksekutif Lewat Program Pelatihan Kelas Dunia

Kabar kerugian ini sontak menyita perhatian publik dan investor, mengingat EXCL selama ini dikenal sebagai salah satu pemain besar di industri telekomunikasi Indonesia.

Lonjakan kebutuhan layanan digital, internet cepat, hingga jaringan 5G semestinya bisa menjadi penopang bisnis. Namun, laporan keuangan terbaru justru memperlihatkan tantangan berat yang mereka hadapi.

Baca Juga: BRI Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia dengan Salurkan Bantuan Beasiswa bagi Pelajar

Mengutip laporan yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 27 Agustus 2025, tercatat pendapatan EXCL sepanjang enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp19,09 triliun. Angka tersebut naik 11,7 persen dibandingkan periode Januari–Juni 2024 yang sebesar Rp17,05 triliun.

Sayangnya, kenaikan pendapatan itu tidak sejalan dengan kondisi bottom line. Pendapatan yang tumbuh justru tergerus oleh besarnya beban keuangan.

Dua pos utama yang paling membebani adalah biaya penyusutan yang menanjak hingga Rp7,3 triliun serta beban infrastruktur yang melonjak ke angka Rp5,36 triliun.

Baca Juga: Turunnya BI Rate Bikin Kredit Lebih Ringan, OJK: Kepercayaan Publik Menguat

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, beban ini meningkat cukup signifikan. Hal tersebut diyakini sebagai konsekuensi dari ekspansi jaringan yang masif, termasuk pengembangan layanan 5G, pembangunan BTS baru, dan investasi pada kapasitas jaringan untuk mengantisipasi kebutuhan data yang terus meningkat.

Di sisi lain, beban penjualan dan pemasaran memang tercatat turun Rp916 miliar. Namun, hal ini tidak banyak membantu karena beban interkoneksi dan beban langsung lainnya justru naik cukup tajam, dari Rp1,56 triliun menjadi Rp2,12 triliun. Dengan kondisi itu, laba usaha yang seharusnya bisa menopang kinerja malah terseret turun.

Baca Juga: Kursi Wamenaker Kosong, Istana Pastikan Penggantinya Hak Prerogatif Presiden

Manajemen EXCL dalam keterangannya menjelaskan, kenaikan beban operasional merupakan bagian dari strategi investasi jangka panjang.

Perusahaan berupaya memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan kualitas jaringan agar dapat bersaing di tengah industri yang semakin ketat.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X