INSIBERNEWS - PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) harus menghadapi kenyataan pahit pada paruh pertama tahun 2025. Perusahaan telekomunikasi ini membukukan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,22 triliun, berbanding terbalik dengan capaian di periode yang sama tahun lalu ketika mereka masih meraih laba Rp1,02 triliun.
Baca Juga: Danantara Dorong Talenta Eksekutif Lewat Program Pelatihan Kelas Dunia
Kabar kerugian ini sontak menyita perhatian publik dan investor, mengingat EXCL selama ini dikenal sebagai salah satu pemain besar di industri telekomunikasi Indonesia.
Lonjakan kebutuhan layanan digital, internet cepat, hingga jaringan 5G semestinya bisa menjadi penopang bisnis. Namun, laporan keuangan terbaru justru memperlihatkan tantangan berat yang mereka hadapi.
Mengutip laporan yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 27 Agustus 2025, tercatat pendapatan EXCL sepanjang enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp19,09 triliun. Angka tersebut naik 11,7 persen dibandingkan periode Januari–Juni 2024 yang sebesar Rp17,05 triliun.
Sayangnya, kenaikan pendapatan itu tidak sejalan dengan kondisi bottom line. Pendapatan yang tumbuh justru tergerus oleh besarnya beban keuangan.
Dua pos utama yang paling membebani adalah biaya penyusutan yang menanjak hingga Rp7,3 triliun serta beban infrastruktur yang melonjak ke angka Rp5,36 triliun.
Baca Juga: Turunnya BI Rate Bikin Kredit Lebih Ringan, OJK: Kepercayaan Publik Menguat
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, beban ini meningkat cukup signifikan. Hal tersebut diyakini sebagai konsekuensi dari ekspansi jaringan yang masif, termasuk pengembangan layanan 5G, pembangunan BTS baru, dan investasi pada kapasitas jaringan untuk mengantisipasi kebutuhan data yang terus meningkat.
Di sisi lain, beban penjualan dan pemasaran memang tercatat turun Rp916 miliar. Namun, hal ini tidak banyak membantu karena beban interkoneksi dan beban langsung lainnya justru naik cukup tajam, dari Rp1,56 triliun menjadi Rp2,12 triliun. Dengan kondisi itu, laba usaha yang seharusnya bisa menopang kinerja malah terseret turun.
Baca Juga: Kursi Wamenaker Kosong, Istana Pastikan Penggantinya Hak Prerogatif Presiden
Manajemen EXCL dalam keterangannya menjelaskan, kenaikan beban operasional merupakan bagian dari strategi investasi jangka panjang.
Perusahaan berupaya memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan kualitas jaringan agar dapat bersaing di tengah industri yang semakin ketat.
Artikel Terkait
Dua Pria Diciduk Polisi, 675 Butir Ekstasi Diamankan di Sunter
Jimin BTS Kembali Dihantam Rumor Pacaran dengan Aktris Song Da Eun, Bukti Baru Muncul di TikTok
Resmi Dilamar Travis Kelce, Cincin Berlian Taylor Swift Jadi Sorotan, Ternyata Segini Harganya
Kemacetan Jabodetabek Bikin Rugi Rp100 Triliun, Rano Karno Minta Warga Beralih ke Transportasi Umum
Trump Desak Hukuman Mati untuk Pelaku Pembunuhan di Washington DC, Picu Polemik Politik
Kursi Wamenaker Kosong, Istana Pastikan Penggantinya Hak Prerogatif Presiden
Gibran Tegaskan IKN Jadi Simbol Pemerataan Pembangunan, Bukan Sekadar Pindah Istana
Turunnya BI Rate Bikin Kredit Lebih Ringan, OJK: Kepercayaan Publik Menguat
BRI Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia dengan Salurkan Bantuan Beasiswa bagi Pelajar
Danantara Dorong Talenta Eksekutif Lewat Program Pelatihan Kelas Dunia