INSIBERNEWS - Potensi besar kabel optik bawah laut kini tak hanya soal transmisi data, tapi juga sebagai alat deteksi dini bencana. Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Telkom Indonesia tengah mengembangkan teknologi sensor tsunami yang memanfaatkan kabel laut untuk memperkuat sistem peringatan dini nasional.
Langkah ini dianggap terobosan penting untuk mengisi celah pemantauan di wilayah laut dalam yang belum terjangkau sensor konvensional.
Baca Juga: Retreat Kepala Daerah Gelombang 2 Bakal Digelar di IPDN, Fokus Penguatan Kepemimpinan Sipil
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang agar bisa terintegrasi langsung dengan InaTEWS, sistem peringatan dini tsunami milik Indonesia.
Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya soal kecanggihan, tapi juga bentuk adaptasi terhadap kondisi geologi Indonesia yang sangat dinamis dan rawan bencana.
Baca Juga: Ketegangan AS-China Memanas: Beijing Kecam Rencana Pencabutan Visa Mahasiswa, Sebut Diskriminatif
"Ini bukan sekadar teknologi baru, tapi respons terhadap risiko nyata yang kita hadapi sebagai negara cincin api," ujar Dwikorita di Jakarta, Jumat (30/5).
Baca Juga: Berkat Laporan Warga, Ribuan Belangkas Terselamatkan dari Penyelundupan Lintas Negara
Kabel optik yang selama ini berfungsi sebagai penghubung komunikasi lintas wilayah, ternyata juga mampu merekam perubahan tekanan serta pergerakan gelombang bawah laut.
Dari sinilah potensi deteksi tsunami muncul. Karena jaringan kabel optik sudah tersebar luas di perairan Indonesia, teknologi ini dinilai sangat relevan untuk memperluas jangkauan sensor dan mempercepat respons darurat di wilayah pesisir.
“Kalau sistem ini berhasil diterapkan, kita bisa pantau pergerakan laut di area-area yang sebelumnya kosong dari deteksi. Ini bisa jadi game changer untuk mitigasi tsunami,” tambahnya.
Baca Juga: Kasus Kecelakaan Maut BMW, Polisi Selidiki Dugaan Upaya Tutupi Identitas Kendaraan
Meski menjanjikan, uji kelayakan tetap jadi tahap krusial. Dwikorita menegaskan bahwa teknologi ini harus melalui berbagai pengujian teknis dan penyusunan standar nasional, terutama karena menyangkut keselamatan banyak orang. Ia menegaskan, sistem ini tidak bisa sekadar “canggih di atas kertas”, tapi harus terbukti andal dalam situasi nyata.
Mengingat Indonesia memiliki 13 segmen megathrust aktif, termasuk zona kritis seperti Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, sistem deteksi yang presisi bisa jadi penentu antara keselamatan dan bencana besar.
Artikel Terkait
Canggihnya Helikopter Kepresidenan AW189 yang Digunakan Prabowo dan Macron ke Borobudur
Pelaku Pencabulan Anak Tiri Disabilitas di Serang Ditangkap, Korban Berani Bersuara Setelah Lama Tertutup
Dealer Utama BYD di Shandong Tumbang, Ribuan Konsumen Terlilit Masalah Refund
Beda Agama, Amanda Rawles dan Adriel Susanteo Resmi Menikah
1,8 Juta Warga Tak Lagi Terima Bansos, Mensos: Ekonomi Mereka Sudah Lebih Mapan
Langit Gaza Mulai Tenang, Israel dan Hamas Sepakat Gencatan Senjata Sementara 60 Hari
Kasus Kecelakaan Maut BMW, Polisi Selidiki Dugaan Upaya Tutupi Identitas Kendaraan
Berkat Laporan Warga, Ribuan Belangkas Terselamatkan dari Penyelundupan Lintas Negara
Ketegangan AS-China Memanas: Beijing Kecam Rencana Pencabutan Visa Mahasiswa, Sebut Diskriminatif
Retreat Kepala Daerah Gelombang 2 Bakal Digelar di IPDN, Fokus Penguatan Kepemimpinan Sipil