INSIBERNEWS - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali harus berhadapan dengan hukum di ruang sidang Pengadilan Distrik Tel Aviv pada Rabu, 28 Mei 2025.
Sidang ini merupakan kali ke-35 Netanyahu hadir secara langsung untuk menjawab sejumlah tuduhan yang telah membayangi karier politiknya selama bertahun-tahun.
Ia didakwa dalam tiga perkara besar yang dikenal luas sebagai Kasus 1000, 2000, dan 4000—semuanya menyangkut dugaan korupsi, suap, dan pelanggaran kepercayaan.
Baca Juga: Sambangi Borobudur bersama Macron, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia Jaga Toleransi dan Budaya
Kasus 1000, misalnya, menyeret nama Netanyahu dan keluarganya karena diduga menerima hadiah-hadiah mewah berupa cerutu, perhiasan, hingga sampanye dari para miliarder sebagai bentuk imbalan atas bantuan politik atau bisnis tertentu.
Sementara dalam Kasus 2000 dan 4000, ia dituduh menjalin kesepakatan ilegal dengan media besar Israel untuk mengubah pemberitaan demi kepentingan politik pribadinya, termasuk barter kebijakan dengan dukungan editorial.
Netanyahu secara konsisten membantah seluruh dakwaan yang diajukan kepadanya. Dalam berbagai pernyataan publik, ia menyebut rangkaian tuduhan ini sebagai bagian dari "perburuan politik" yang dirancang oleh lawan-lawannya untuk menggulingkan dirinya dari kekuasaan.
Baca Juga: China Unjuk Gigi di Laut China Selatan, Bomber H-6 Mendarat di Pulau Sengketa
“Ini adalah upaya kudeta hukum yang dilakukan oleh kelompok oposisi, bukan semata soal keadilan,” kata Netanyahu beberapa waktu lalu, menegaskan bahwa ia tidak akan menyerah dan akan terus memimpin.
Proses hukum ini telah berlangsung sejak 2020, setelah Mantan Jaksa Agung Avichai Mandelblit resmi mengajukan dakwaan terhadap Netanyahu pada akhir 2019.
Sidang demi sidang masih terus berlanjut hingga kini, meski Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri di tengah kontroversi yang menyelimutinya.
Artikel Terkait
Senat AS Tolak Sanksi untuk ICC! Upaya Lindungi Netanyahu Gagal, Trump Siap Ambil Langkah Selanjutnya?
Netanyahu Tolak Negara Palestina, Sebut Bisa Dibangun di Arab Saudi
Netanyahu Ultimatum Hamas: Bebaskan Sandera atau Perang Berlanjut!
Trump-Netanyahu Berisiko Hancurkan Perjanjian Perdamaian Gaza
Netanyahu Blokir Bantuan Rumah Mobil dan Alat Berat ke Gaza, Proses Pemulihan Tertunda
Netanyahu Tegaskan Komitmen Israel Ambil Alih Gaza, Sementara Arab Saudi Bahas Alternatif di Pertemuan Puncak
Netanyahu Ungkap Serangan Udara ke Gaza Setelah Gencatan Senjata hanya Permulaan
Menteri Zionis Ancam Bakal Gulingkan Netanyahu Jika Gaza Tak Diduduki Militer Israel
Trump Minta Netanyahu Bersikap Baik pada Gaza: Warga Sudah Terlalu Menderita
Netanyahu Klaim Tewasnya Mohammed Sinwar - Adik Yahya Sinwar Jadi Target Israel di Rumah Sakit Gaza