INSIBERNEWS - Tragedi ledakan amunisi sisa milik TNI yang terjadi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut, Jawa Barat, Senin (12/5), terus menuai sorotan.
Salah satu suara kritis datang dari pengamat militer dan Co-founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, yang menilai ada kelemahan serius dalam pengamanan area kejadian hingga menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan sipil.
Baca Juga: Tarif Impor AS-China Turun Sementara, Perang Dagang Mereda tapi Masih Rawan Panas Lagi
"Kalau kita lihat dari sejumlah video yang beredar di media sosial, jelas terlihat masih ada aktivitas warga di sekitar lokasi saat ledakan terjadi. Ini menandakan bahwa area tersebut belum benar-benar steril, dan itu sangat membahayakan," ungkap Khairul dalam keterangannya.
Ia menambahkan, "Kondisi ini menunjukkan kemungkinan ada kelalaian dalam pelaksanaan SOP di lapangan."
Baca Juga: Ngaku Anggota Ormas, 28 Preman Ditangkap di Jakarta Pusat Gara-Gara Paksa Uang Parkir
Menurutnya, kegiatan pemusnahan amunisi tidak layak pakai (ATLP) sebenarnya adalah hal rutin yang biasa dilakukan oleh satuan militer. Tujuannya untuk menjaga keamanan jangka panjang karena amunisi yang telah kedaluwarsa bisa sangat mudah meledak jika tidak ditangani dengan benar.
Namun, kata dia, rutinitas ini harus dijalankan dengan disiplin tinggi, terutama soal lokasi dan sistem pengamanan.
Baca Juga: 8.000 Karyawan Panasonic di Indonesia Terancam PHK Terkena Efek Efisiensi Global
Prosedur standar semestinya dilakukan dengan memilih lokasi yang jauh dari permukiman penduduk, membatasi akses secara ketat, serta mengevakuasi seluruh warga dari radius berbahaya sebelum kegiatan dimulai.
“Kalau salah satu dari elemen ini diabaikan, maka konsekuensinya bisa fatal. Dan dalam kasus Garut ini, kita melihat potensi besar kelalaian dalam kontrol zona steril,” tambahnya.
Baca Juga: Ikut Menjadi Korban, Pelaku UMKM Ini Ngaku Kena Tipu Aldy Maldini
Sampai saat ini, penyebab pasti dari ledakan tersebut masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut oleh TNI dan aparat berwenang. Namun, suara publik terus mendesak agar ada transparansi dalam investigasi serta evaluasi menyeluruh terhadap SOP pemusnahan amunisi yang digunakan selama ini.
Baca Juga: Viral Skandal Penipuan Aldy Eks CJR, Richard Lee Ungkap Ikut Jadi Korban
Artikel Terkait
BGN Nilai Program Makan Bergizi Gratis Bisa Kurangi Tawuran Pelajar
ITB Minta Mahasiswanya Tak Ditahan: Biar Kami yang Bina di Kampus
BRI Raih Digital Channel Terbaik Versi BSEM 2025 Berkat Kualitas Layanan yang Meningkat
BRI Peduli Peringati Hari Raya Waisak dengan Salurkan Bantuan Sembako Bagi Ribuan Umat Buddha
Pantau Langsung di Barak TNI, Kak Seto Ungkap Banyak Orang Salah Sangka Terkait Kebijakan Dedi Mulyadi Soal Siswa Nakal
Viral Skandal Penipuan Aldy Eks CJR, Richard Lee Ungkap Ikut Jadi Korban
Ikut Menjadi Korban, Pelaku UMKM Ini Ngaku Kena Tipu Aldy Maldini
8.000 Karyawan Panasonic di Indonesia Terancam PHK Terkena Efek Efisiensi Global
Ngaku Anggota Ormas, 28 Preman Ditangkap di Jakarta Pusat Gara-Gara Paksa Uang Parkir
Tarif Impor AS-China Turun Sementara, Perang Dagang Mereda tapi Masih Rawan Panas Lagi