Tarif Impor AS-China Turun Sementara, Perang Dagang Mereda tapi Masih Rawan Panas Lagi

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 13 Mei 2025 | 08:19 WIB
Perang dagang AS dan China akan berlanjut karena Donald Trump kembali terpilih jadi Presiden AS (Instagram @ngomonginuang)
Perang dagang AS dan China akan berlanjut karena Donald Trump kembali terpilih jadi Presiden AS (Instagram @ngomonginuang)

INSIBERNEWS - Amerika Serikat dan China akhirnya sepakat memberi jeda pada perang dagang yang sudah lama bikin pasar global gonjang-ganjing.

Mulai 14 Mei 2025, kedua negara bakal menurunkan tarif impor selama 90 hari ke depan, sebagai langkah awal meredakan ketegangan yang sudah memanas berbulan-bulan.

Baca Juga: Ngaku Anggota Ormas, 28 Preman Ditangkap di Jakarta Pusat Gara-Gara Paksa Uang Parkir

Langkah ini diumumkan lewat pernyataan bersama yang dirilis dari Jenewa, Senin (12/5). Dalam kesepakatan tersebut, tarif impor Amerika untuk sebagian besar produk asal China yang sebelumnya mencapai 145% bakal dipangkas menjadi 30%.

Kebijakan ini juga termasuk pemangkasan tarif atas produk yang berkaitan dengan fentanil, zat yang selama ini jadi salah satu isu sensitif antara kedua negara.

Baca Juga: 8.000 Karyawan Panasonic di Indonesia Terancam PHK Terkena Efek Efisiensi Global

Di sisi lain, China juga menurunkan bea masuk untuk berbagai barang asal AS dari 125% menjadi 10%. Namun penting dicatat, pengurangan tarif ini hanya berlaku terbatas dan tidak menyentuh kebijakan tarif sektoral AS yang masih berlaku untuk seluruh negara mitra dagangnya. Artinya, perang dagang belum sepenuhnya selesai, hanya di-pause sementara.

Baca Juga: Ikut Menjadi Korban, Pelaku UMKM Ini Ngaku Kena Tipu Aldy Maldini

“Kami tidak ingin jalan masing-masing. Tidak ada pihak yang ingin memisahkan diri,” ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan dagang kedua negara tetap terbuka dan rasional.

Kebijakan ini disambut positif oleh pasar, meski tetap diselimuti kehati-hatian. Para analis memperkirakan penurunan tarif ini hanya menjadi jeda sementara untuk memberikan ruang negosiasi lebih lanjut. Jika dalam waktu 90 hari tidak ada progres nyata, tarif bisa saja kembali ke titik semula atau bahkan lebih tinggi.

Baca Juga: Pantau Langsung di Barak TNI, Kak Seto Ungkap Banyak Orang Salah Sangka Terkait Kebijakan Dedi Mulyadi Soal Siswa Nakal

Bagi pelaku usaha global, kesepakatan ini jadi angin segar meski belum tentu bertahan lama. Banyak yang berharap jeda ini bisa dimanfaatkan kedua negara untuk mencari solusi jangka panjang, bukan cuma sekadar pendinginan sementara yang sewaktu-waktu bisa kembali memanas.

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X