INSIBERNEWS - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyoroti pentingnya integritas di dunia pendidikan setelah merilis hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan tahun 2024.
Dari survei yang melibatkan lebih dari 36 ribu satuan pendidikan dan hampir setengah juta responden itu, tercatat skor integritas nasional hanya mencapai 69,05.
Skor tersebut dinilai masih berada di zona “korektif”, artinya perlu pembenahan serius agar bisa naik ke kategori “adaptif”, “kuat”, atau bahkan “tangguh”.
Baca Juga: Makin Bertambah, Intip Deretan Kasus Keracunan MBG Sejak Peluncurannya di Sekolah
Ketua KPK Setyo Budiyanto dalam keterangannya di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi, Jakarta, pada Kamis (24/4), menyampaikan bahwa ada tiga aspek utama yang menjadi sorotan KPK sebagai bentuk rekomendasi perbaikan.
“Kami menyoroti tiga dimensi utama yaitu karakter individu, lingkungan atau ekosistem pendidikan, serta tata kelola yang diterapkan di sekolah-sekolah,” ujarnya.
Ketiga dimensi ini dinilai sebagai kunci agar pendidikan antikorupsi benar-benar bisa mengakar sejak dini.
Baca Juga: Terungkap di Sidang, Hasto Diduga Biayai 'Jalan Pintas' Harun Masiku ke DPR
Lebih lanjut, Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menekankan pentingnya pembiasaan nilai-nilai integritas sejak dari level individu.
Ia menyarankan agar satuan pendidikan tidak hanya membuat program penguatan karakter secara formalitas, tapi juga mengevaluasinya secara berkala.
“Kalau kita ingin menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab, maka siswa harus diajak mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar tahu, tapi terbiasa,” kata Wawan.
Baca Juga: Transaksi BPHTB di Jakarta Kini Lebih Cepat dan Praktis Lewat Pajak Online
Di sisi lain, aspek ekosistem pendidikan juga dinilai punya peran besar dalam membentuk karakter antikorupsi. Wawan menyebut perlunya kolaborasi yang lebih dinamis dan terarah antara berbagai pihak—guru, orang tua, siswa, dan pemerintah—untuk menciptakan suasana belajar yang sehat dan berintegritas.
“Bukan cuma soal kurikulum atau sistem belajar, tapi soal bagaimana semua pihak bergerak bersama memenuhi kebutuhan masing-masing dan beradaptasi dengan perubahan,” tambahnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Gelar Open House di Istana Merdeka pada 31 Maret
Jalur Arteri Karawang Rusak, 22 Pemudik Motor Jatuh: Kementerian PU Minta Maaf, Bupati Ancam Ambil Alih Perbaikan
1,65 Juta Kendaraan Sudah Keluar dari Jakarta, Kakorlantas Siapkan Strategi Hadapi Arus Balik Lebaran
Fantasi Kelam di Balik Jas Putih Dokter RSHS Bandung Tersangka Pemerkosaan Pasien
Pembangunan Tahap II IKN Resmi Dimulai, Rp48,8 Triliun Disiapkan untuk Wujudkan Kota Politik Baru
Heboh Bau Gas dan Bensin Misterius dari Bekasi Kabupaten dan Kota hingga Jakarta Timur, Warga Resah dan Tak Bisa Tidur Semalaman
Debt Collector Rusuh di Polsek Bukit Raya Pekanbaru, Kapolda Riau Murka, Kapolsek Dicopot, 4 Pelaku Ditangkap Polisi
Prabowo Subianto Terbangkan Drone Tebar Benih Padi di Palembang
Transaksi BPHTB di Jakarta Kini Lebih Cepat dan Praktis Lewat Pajak Online
Makin Bertambah, Intip Deretan Kasus Keracunan MBG Sejak Peluncurannya di Sekolah