INSIBERNEWS - Cancel culture merupakan fenomena yang tengah ramai digaungkan para pengguna media sosial (medsos).
Budaya pembatalan atau canvel culture ini dilakukan sebagai tanggapan atas adanya skandal tertentu yang dilakukan oleh seorang individu yang biasanya merupakan tokoh publik.
Seperti sebagian warganet di Indonesia yang menyoroti kasus olokan Gus Miftah selaku pejabat publik yang dinilai berperilaku tidak etis terhadap pedagang es teh bakul bernama Sunhaji.
Berkaca dari hal itu, mari memahami lebih jauh tentang fenomena cancel culture yang dapat membuat redup karier dari seorang public figure (tokoh publik).
Apa Itu Cancel Culture?
Dikutip dari Britannica, cancel culture artinya sebuah upaya boikot secara massal terhadap tindakan seseorang yang dinilai menyinggung sesuatu atau tidak etis yang umumnya terjadi di medsos.
Pada dasarnya, budaya pembatalan publik itu merujuk pada tindakan untuk berhenti memberikan dukungan terhadap tokoh publik yang telah melakukan suatu hal negatif.
Seseorang yang mendapatkan boikot melalui gerakan ini umumnya akan merasakan dampak penurunan karier karena tak dapat lagi kepercayaan dari masyarakat.
Apa Alasan Adanya Budaya Pembatalan?
Umumnya, publik akan menjadikan budaya pembatalan sebagai dasar dari sanksi sosial.
Selain itu, cancel culture juga dapat membuat tokoh atau publik figur kembali
mempertimbangkan konsekuensi dari pernyataan atau tindakan mereka.
Baca Juga: 7 Ide Outfit Hijab dengan Celana Kulot yang Wajib Dicoba untuk Tampil Modis dan Elegan
Cancel culture juga dianggap sebagai upaya untuk mengungkap tindakan rasisme dan seksisme pada sebuah skandal.
Adapun, sebenarnya fenomena ini terjadi sebagai bentuk penghakiman publik untuk meminta pertanggung jawaban seseorang atas pernyataan atau perilakunya